Feature

Peserta Napak Tilas Jalan Kaki 14 Kilometer

313
×

Peserta Napak Tilas Jalan Kaki 14 Kilometer

Sebarkan artikel ini
DILEPAS : Peserta napak tilas secara berkelompok berjalan kaki memulai titik bersejarah dari Istana Kuning ke Lapangan Senggora Kumai, Senin (12/1/2026).FOTO FIT/RADAR KALTENG

Hidupkan Hari Bersejarah 14 Januari 1946 Kumai

Bertolak dari Istana Kuning Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, peserta napak tilas peristiwa 14 Januari 1946 berjalan kaki menapaki rute sepanjang 14 kilometer lebih menuju Lapangan Senggora, Kecamatan Kumai, Senin sore (12/1/2026).

FITRIA SELFIAH, Pangkalan Bun

DI bawah langit biru setelah diguyur hujan, ratusan peserta berkumpul membentuk barisan panjang. Mereka berasal dari gabungan Angkatan Muda Penerus Perjuangan (AMPP) Kumai, TNI, Polri, pelajar, pramuka, ASN, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Keberangkatan para peserta dilepas oleh Bupati Kotawaringin Barat (Kobar) Nurhidayah. Diawali iringan doa, rombongan napak tilas memulai perjalanan melalui jalan yang disesuaikan jalur pertempuran para pejuang. 

Langkah demi langkah dilalui. Pelan namun pasti. Rasa lelah pun sesekali menghampiri. Namun semangat mereka menjadi bukti penghormatan atas perjuangan tokoh lokal melawan tentara Belanda pada 80 tahun silam.

Pasca proklamasi kemerdekaan, tepatnya pada 14 Januari 1946 di Kecamatan Kumai, peristiwa heroik itu terjadi. Dikisahkan, kala itu Pangeran Ratu Alamsyah, Sultan Kotawaringin ke-14 memimpin wilayah Swapraja Kotawaringin.

Pihak NICA Belanda ingin menguasai wilayah Kumai yang dipandang strategis. Lantaran memiliki pelabuhan yang dapat menjadi pintu masuk logistik dan militer ke pedalaman Kalimantan. Singkatnya, pasukan penjajah ini bergerak lewat jalur laut, merangsek masuk ke pesisir selatan Kumai.

Para pejuang lokal lantas bersiap menyalakan api perlawanan. Sultan Kotawaringin ke-14 ikut andil dalam menambah pasukan dari Pangkalan Bun ke Kumai untuk menghadang kapal tentara kerajaan Hindia Belanda.

Para pejuang yang terdiri dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pemuda, dan barisan ulama (pasukan jenggot) bersatu menembaki konvoi Belanda. Serangan ini berhasil membuat banyak pasukan penjajah tewas.

Belanda akhirnya mundur dan gagal mendarat di Pelabuhan Kumai, yang menandai kemenangan lokal mempertahankan wilayah kemerdekaan RI.

Abdul Aziz Syamsudin, Panglima Utar, dan Kai Bagong merupakan beberapa nama tokoh pejuang lokal yang mengambil posisi penting di peperangan. Nama-nama itu, bahkan diabadikan menjadi nama pelabuhan dan jalan di Kumai.

Ketua AMPP Kumai, Chaidir menjelaskan, rute napak tilas dilanjutkan menyusuri Jalan Iskandar menuju Masjid Al Falah Lanud Iskandar. Peserta di sini singgah istirahat maupun salat berjemaah.

Setelah itu, perjalanan berlanjut ke Desa Batu Belaman menuju Kelurahan Candi untuk check point terakhir. Belum berhenti, peserta menuju Taman Bahagia atau dulunya adalah Taman Makam Pahlawan. Kemudian, mereka berjalan lagi hingga mencapai garis finish di Lapangan Senggora Kumai. 

“Ini adalah kali keduanya memulai di Istana Kuning, setelah pernah berangkat dari pesisir Pantai Bogam. Rute berubah karena ternyata secara historis memang arah pergerakannya antara Pangkalan Bun-Kumai sesuai rute yang dilalui,” jelasnya.

Dari napak tilas ini, lanjut Chaidir, para peserta mengenang jejak langkah pejuang kemerdekaan, sekaligus membangkitkan semangat patriotisme dan cinta Tanah Air. Khususnya bagi generasi muda, mereka kian memahami akan sejarah bahwa Kobar memiliki tokoh-tokoh pejuang yang tidak kalah berkorban gigih demi mengusir agresi militer Belanda.

Pertempuran 14 Januari 1946, Kumai menjadi saksi perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan. AMPP Kumai pun sejak lama mengupayakan, agar peristiwa bersejarah tersebut diakui sebagai bagian penting dari perjuangan bangsa di tingkat nasional. Mereka berharap, pejuang lokal seperti Panglima Utar, pemimpin pertempuran tersebut ditetapkan sebagai pahlawan nasional. (fit/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *