Feature

Dari Pengetahuan Tradisional hingga Meraih Perak ISIF di UI

21
×

Dari Pengetahuan Tradisional hingga Meraih Perak ISIF di UI

Sebarkan artikel ini
MEMBANGGAKAN : Enam siswa SMAN 2 Palangka Raya meraih medali perak dalam ajang 8th ISIF 2026 di Balai Purnomo Prawiro Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, pada 12-17 Oktober 2026. FOTO HUMAS DISDIK UNTUK RADAR KALTENG

Kembang Sepatu Membawa Siswa SMAN 2 Palangka Raya ke Panggung Internasional

Tanaman kembang sepatu mungkin hanya dipandang sebagai penghias halaman rumah. Namun di tangan enam siswa SMAN 2 Palangka Raya, tanaman yang akrab dijumpai di lingkungan masyarakat itu menjadi titik awal sebuah penelitian yang mengantarkan mereka meraih medali perak di kompetisi internasional di Universitas Indonesia (UI).

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

BERANGKAT dari pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan kembang sepatu untuk membantu meredakan demam, keenam siswa tersebut mencoba menggali potensi tanaman lokal melalui pendekatan ilmiah.

Gagasan sederhana yang tumbuh dari lingkungan sekitar itu, mereka bawa ke panggung 8th International Science and Invention Fair (ISIF) 2026 di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada 12 sampai 17 Oktober 2026.

Enam siswa tersebut adalah Raisya Arina Zaidan, Cut Nadia Putri Raya, Vania Cassandra Joycelin, Riris Esther Sitorus, Yasmine Batrisya Agata, dan Gilang Natanael Tanggara. Mereka mengangkat penelitian berjudul “From Local Wisdom to Scientific Evidence: Validation of Hibiscus rosa-sinensis as a Natural First-Aid Treatment for Fever”.

Penelitian itu berfokus pada potensi daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Bagi mereka, pengetahuan yang diwariskan masyarakat bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih jauh melalui penelitian.

Mewakili tim, Raisya Arina Zaidan mengungkapkan, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk memaparkan hasil penelitian, menjelaskan metode yang digunakan, sekaligus menjawab pertanyaan dari dewan juri.

“Dalam kompetisi ini, saya bersama tim membawa penelitian tentang pemanfaatan daun kembang sepatu sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Penelitian ini berangkat dari pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat, kemudian kami coba kaji melalui pendekatan ilmiah untuk melihat potensinya lebih lanjut,” ungkap Raisya, Senin (19/10/2026).

Di balik medali perak yang berhasil dibawa pulang, ada proses belajar yang tidak hanya berkaitan materi penelitian. Para siswa juga dituntut memahami gagasan yang mereka angkat, menguasai metode penelitian, dan menyampaikan hasilnya secara meyakinkan di hadapan juri internasional.

Bagi Raisya, pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang penelitian.

“Puji syukur, penelitian yang kami bawakan berhasil meraih silver medal. Tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena bisa belajar banyak hal baru sekaligus membawa nama Kalimantan Tengah di tingkat internasional,” ungkapnya.

Namun bagi Raisya dan rekan-rekannya, makna penelitian itu tidak berhenti pada penghargaan. Mereka ingin menunjukkan bahwa potensi daerah dapat menjadi sumber gagasan bagi generasi muda untuk menghasilkan karya bermanfaat.

Pengetahuan lokal, dalam pandangan tersebut, dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kekayaan alam di sekitar sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu. Melalui penelitian, gagasan yang berawal dari hal sederhana bisa dikembangkan menjadi pertanyaan ilmiah yang layak ditelusuri lebih lanjut.

Meski demikian, kajian mengenai potensi daun kembang sepatu sebagai kompres untuk membantu penanganan demam tetap perlu ditempatkan sebagai penelitian yang membutuhkan pengujian lebih lanjut. Perolehan medali dalam kompetisi ilmiah bukan dengan sendirinya menjadi bukti bahwa bahan tersebut telah terbukti aman dan efektif sebagai pengobatan.

Raisya berharap, pengalaman yang mereka peroleh dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi karya yang berguna bagi masyarakat.

“Saya berharap karya ini bisa mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mencoba hal-hal baru ke depannya. Semoga saya bisa terus membawa nama Kalimantan Tengah ke tingkat yang lebih luas,” tambahnya.

Perjalanan Raisya di forum internasional juga memperlihatkan bahwa prestasi akademik dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan kebudayaan daerah.

Sebelum mengikuti ISIF 2026, ia terlibat dalam Bali International Science Fair (BISF) 2026 di Denpasar, Bali. Dalam kegiatan tersebut, Raisya bersama siswa SMAN 2 Palangka Raya lainnya mendapat kesempatan tampil pada seremoni pembukaan dengan membawakan tari bahalai, salah satu kesenian yang merepresentasikan kekayaan budaya Kalimantan Tengah.

Ia juga menjadi bagian dari tim penelitian berjudul Is ‘Life After Graduate’ Phenomenon Real for High School Student.

Pengalaman itu menghadirkan ruang bagi para siswa untuk menunjukkan dua sisi potensi generasi muda kemampuan mengembangkan gagasan ilmiah dan keberanian memperkenalkan identitas budaya daerah di hadapan khalayak yang lebih luas.

Dari tanaman kembang sepatu yang tumbuh di sekitar masyarakat hingga panggung kompetisi internasional, perjalanan enam siswa SMAN 2 Palangka Raya tersebut menjadi gambaran bahwa inspirasi penelitian tidak selalu harus datang dari sesuatu yang jauh atau rumit.

Terkadang, gagasan besar justru berawal dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Yang dibutuhkan adalah keingintahuan untuk bertanya, keberanian untuk meneliti, serta ketekunan untuk mengembangkan gagasan menjadi karya.

Medali perak ISIF 2026 pun menjadi bagian dari perjalanan itu. Bukan hanya sebagai penghargaan atas penelitian yang mereka presentasikan. Tapi juga sebagai dorongan untuk terus menggali potensi lokal dan membawa nama Kalteng melalui ilmu pengetahuan dan kreativitas generasi muda. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *