Palangka Raya

Inflasi Tertinggi di Kalteng, Palangka Raya Intervensi Pangan

184
×

Inflasi Tertinggi di Kalteng, Palangka Raya Intervensi Pangan

Sebarkan artikel ini
POTONG PITA : Wali kota Palangka Raya Fairid Naparin (kanan) didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng Yuliansah Andrias meresmikan serambi dirangkaikan gerakan pangan murah yang ditandai pemotongan pita, beberapa waktu lalu. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya bergerak cepat merespons lonjakan inflasi yang terjadi menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) Kota Palangka Raya pada Januari 2026 tercatat sebesar 4,61 persen, tertinggi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Sebagai langkah konkret pengendalian harga, Wali Kota Fairid Naparin menghadiri Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (Serambi) yang dirangkaikan dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalteng, baru-baru ini.

Dalam sambutannya, Fairid menegaskan bahwa peningkatan permintaan kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri secara alami memicu dinamika harga pangan. Kondisi tersebut, menurut dia, memberikan tekanan cukup besar terhadap daya beli masyarakat.

“Momentum ini perlu kita antisipasi bersama. Melalui program serambi dan GPM, pemerintah melakukan intervensi pasar untuk memastikan ketersediaan pasokan dan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Menurut Fairid, kehadiran GPM menjadi langkah strategis di tengah tren kenaikan harga bahan pokok. Intervensi pasar dilakukan guna menekan laju inflasi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

Ia menjelaskan, pasar murah yang digelar memberikan akses kepada warga untuk memperoleh sejumlah komoditas pangan dengan harga lebih rendah dari harga pasar. Langkah ini diharapkan mampu meredam gejolak harga yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan.

“Tujuan utama program ini adalah membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah, khususnya saat Ramadan dan menjelang Idulfitri,” ungkapnya.

Fairid menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Ia mengajak distributor dan pedagang untuk bersama-sama menjaga kewajaran harga serta memastikan pasokan tetap tersedia.

“Peran semua pihak sangat krusial. Mari kita jaga stabilitas harga agar masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang,” pungkasnya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *