Palangka Raya

Kualitas Udara Buruk, PJJ Beban Baru Wali Murid

49
×

Kualitas Udara Buruk, PJJ Beban Baru Wali Murid

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin.

PALANGKA RAYA – Buruknya kualitas udara akibat asap karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih harus diterapkan di Kota Palangka Raya. Namun kebijakan yang semula menjadi langkah perlindungan bagi siswa dari paparan asap kini mulai memunculkan persoalan baru di tingkat wali murid.

Orang tua mulai mengeluhkan beratnya mendampingi anak belajar dari rumah. Selain harus meluangkan waktu di tengah kesibukan, sebagian orang tua juga dihadapkan pada persoalan keterbatasan gadget ketika perangkat harus digunakan bersama anak untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani mengatakan, pihaknya memahami kondisi tersebut. Berbagai keluhan orang tua terkait PJJ telah diterima dan menjadi perhatian Disdik.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani.

“Kami mendengar dan memahami keinginan serta keluhan orang tua terkait pelaksanaan PJJ, termasuk kebutuhan untuk meluangkan waktu mendampingi anak dan berbagi gadget,” kata Jayani, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, persoalan tersebut menjadi perhatian karena PJJ jangan sampai justru menambah beban orang tua. Karena itu, Disdik meminta guru menyesuaikan tugas dengan kemampuan siswa dan jenjang pendidikannya.

“Kami meminta agar pemberian tugas tidak terlalu membebani anak. Terutama tugas yang mengharuskan mereka meminta bantuan orang tua. Pertanyaan dan tugas yang diberikan harus realistis dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing,” ujarnya.

PJJ yang berlangsung cukup lama juga mulai berdampak pada kondisi siswa. Anak-anak dinilai mulai mengalami kejenuhan karena harus terus belajar dari rumah dan kehilangan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan guru maupun teman sebaya.

Jayani mengakui, pembelajaran secara langsung di sekolah tetap memiliki perbedaan dibandingkan PJJ. Karena itu, pihaknya terus mendorong guru melakukan inovasi agar pembelajaran dari rumah tidak terasa monoton.

“Kami menyadari anak-anak bisa merasa bosan karena terlalu lama belajar dari rumah. Mereka juga tentu ingin kembali ke sekolah untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman-temannya,” katanya.

Disdik kemudian meminta pembelajaran dibuat lebih teratur. Untuk jenjang SD dan SMP, minimal dua mata pelajaran diberikan setiap hari. Guru juga diminta tidak sekadar memberikan tugas, tetapi memastikan proses belajar tetap menarik dan sesuai kondisi siswa.

Namun, di tengah berbagai persoalan tersebut, PJJ masih menjadi pilihan selama kondisi ISPU belum memungkinkan siswa kembali ke sekolah.

Jayani menegaskan, pihaknya berharap kualitas udara segera membaik sehingga pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan. “Bagaimana pun, pembelajaran secara langsung di sekolah tidak sama dengan PJJ,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengakui, keluhan orang tua mengenai PJJ telah sampai kepadanya. Pemko, katanya, akan segera berkoordinasi dengan dinas teknis untuk merangkum berbagai persoalan yang muncul.

“Minggu kemarin saya juga mendapatkan laporan bahwa banyak juga tadi apa yang disampaikan. Nanti sekitar minggu-minggu inilah kita akan berkoordinasi dengan dinas teknis,” kata Fairid.

Ia memastikan keluhan tersebut akan dibahas untuk menentukan langkah yang dapat diterapkan. “Kita rangkum permasalahan-permasalahan, kita rapat koordinasikan, kita rencanakan, terus diimplementasikan untuk menjawab keluhan-keluhan tadi,” ujarnya.

Namun untuk sementara, kondisi udara tetap menjadi penentu. Jika kualitas udara dan ISPU masih seperti saat ini, PJJ berpotensi terus diperpanjang. “Kita lihat situasi dan kondisi. Kalau masih seperti ini pasti diperpanjang,” tegas Fairid. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *