Kisah Dewi Purnama Merajut Handmade De’s Craft
Dari lapak sederhana di Car Free Day (CFD), produk rajutan De’s Craft milik Dewi Purnama perlahan menjangkau pasar yang lebih luas. Tanpa sistem reseller tetap, sepatu rajut buatannya kini telah dikirim ke berbagai daerah di Kalimantan, Lampung, hingga Jawa Tengah. Berangkat dari pesanan pelanggan yang mengenalnya lewat media sosial maupun rekomendasi dari mulut ke mulut.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
DI balik perjalanan itu, Dewi Purnama merintis usaha rajutnya dari nol. Dia tidak memiliki latar belakang formal di bidang kerajinan, melainkan belajar secara otodidak melalui video YouTube.
Dari sekadar mencoba pola dasar, dia terus mengasah keterampilan hingga mampu menghasilkan berbagai produk rajutan yang lebih kompleks. Dia juga pernah bergabung dengan komunitas perajut, tempat dia saling bertukar ilmu dan pengalaman, sebelum akhirnya kembali melanjutkan proses belajar secara mandiri ketika komunitas tersebut bubar.
“Awalnya belajar sendiri, dari YouTube, terus ikut komunitas, saling sharing. Setelah itu lanjut lagi belajar sendiri sampai sekarang,” begitu dia menggambarkan prosesnya, Minggu (7/6/2026).
Dari proses belajar yang panjang itu lahirlah De’s Craft, sebuah usaha kecil yang kini memproduksi beragam kerajinan rajut. Produk yang dihasilkan tidak hanya sepatu rajut, tetapi juga tas, boneka, bunga rajut, dompet, hingga strap masker.
Namun, di antara semua produk itu, sepatu rajut menjadi yang paling menonjol dan paling banyak diminati pelanggan. Sepatu rajut buatan Dewi hadir dalam berbagai ukuran, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa.
Setiap ukuran memiliki tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan yang berbeda. Untuk sepatu bayi, dia bisa menyelesaikan hingga dua pasang dalam satu hari kerja penuh jika dikerjakan fokus selama kurang lebih delapan jam.
Sementara untuk sepatu dewasa, prosesnya bisa lebih lama. Bahkan hanya menghasilkan satu pasang per hari, tergantung model dan detail yang diminta. “Kalau yang kecil bisa sehari dua pasang, tapi kalau dewasa kadang cuma satu pasang,” ujarnya.
Harga yang ditawarkan pun disesuaikan dengan ukuran dan kerumitan. Sepatu rajut bayi dibanderol sekitar Rp 75.000, sementara untuk anak-anak berada di kisaran Rp 100.000 sampai dengan Rp110.000.
Untuk sepatu dewasa, harga berkisar antara Rp 130.000 sampai dengan Rp 200.000, terutama untuk model dengan hak atau desain yang lebih rumit.
Di tengah aktivitasnya berjualan di Car Free Day yang sudah dijalani lebih dari setahun, Dewi mulai melihat pola pembelian yang menarik. Banyak pelanggan yang datang bukan hanya untuk membeli satu kali, tetapi kembali lagi ketika anak mereka tumbuh dan membutuhkan ukuran yang lebih besar. Hal ini membuat produk sepatu rajutnya memiliki pelanggan berulang yang cukup stabil.
Dari interaksi langsung dengan pembeli, dia juga menyimpan berbagai cerita yang membekas. Salah satunya adalah pengalaman ketika seorang pelanggan membeli sepatu rajut bayi bahkan sebelum sang bayi lahir. Saat itu, kehamilan masih berada pada tahap pemeriksaan USG. “Waktu itu ada yang beli, padahal masih USG, masih belum lahir. Tapi sudah dibelikan sepatu, katanya sudah di-USG perempuan, jadi neneknya langsung beli,” kenangnya.
Momen seperti itu memperlihatkan bagaimana produk rajut yang dia buat tidak hanya dipandang sebagai barang kebutuhan, tetapi juga sebagai simbol harapan dan persiapan menyambut anggota keluarga baru. Ada emosi yang ikut terjalin di antara benang-benang yang dirajutnya.
Meski terlihat sederhana, proses pembuatan sepatu rajut bukanlah pekerjaan yang bisa dianggap mudah. Dia menyebut sepatu justru menjadi produk yang paling “ringan” dibandingkan jenis rajutan lainnya. Dia bahkan bisa mengerjakan sepatu sambil melakukan aktivitas lain karena pola pembuatannya sudah lebih dia kuasai secara intuitif.
Berbeda dengan sepatu, boneka rajut justru menjadi salah satu produk paling menantang. Setiap bagian harus dihitung dengan presisi agar bentuk wajah dan tubuhnya proporsional. Sedikit saja kesalahan dalam perhitungan dapat membuat hasil akhir menjadi tidak seimbang. “Kalau boneka harus benar-benar fokus, nggak bisa sambil ngobrol,” katanya.
Untuk bahan, dia menggunakan benang polyester untuk sepatu rajut, sementara untuk produk boneka anak-anak dia memilih benang katun susu yang lebih lembut dan aman di kulit. Bagian dalam produk diisi dakron, bukan kapas, agar lebih higienis dan tidak menimbulkan debu yang bisa mengganggu anak-anak.
Keputusan memilih bahan bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kenyamanan dan keamanan pengguna, terutama karena sebagian besar produknya menyasar bayi dan anak-anak.
Meski persaingan produk rajut di era digital semakin ketat, terutama dengan banyaknya produk serupa di platform daring, De’s Craft tetap memiliki pasar tersendiri. Bahkan, produk yang dia buat telah dikirim ke berbagai daerah seperti Kalimantan, Lampung, hingga Jawa Tengah, meski tanpa dukungan sistem reseller yang terstruktur.
Dari lapak sederhana di Car Free Day hingga pesanan lintas daerah, perjalanan De’s Craft menunjukkan bagaimana ketekunan dan konsistensi dapat membuka jalan bagi usaha kecil untuk berkembang.
Di setiap simpul benang yang dia rajut, tersimpan cerita tentang proses belajar mandiri, adaptasi pasar, dan harapan-harapan kecil yang ikut tumbuh bersama setiap pasang sepatu rajut yang dia kirimkan. (ifa)












