Feature

Hampir Menyerah, Tetap Melangkah hingga Raih Medali

59
×

Hampir Menyerah, Tetap Melangkah hingga Raih Medali

Sebarkan artikel ini
RAIH PERUNGGU : Axel Giyofandhi meraih medali perunggu bidang biologi pada OSN jenjang SMA/MA/SMK Tingkat Nasional 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang. FOTO DOKUMEN PRIBADI

Melihat Perjuangan Axel Giyofandhi di Olimpiade Sains Nasional di Malang

Ada satu titik ketika rasa lelah mulai mengalahkan semangat Axel Giyofandhi. Dua hari berada dalam ketatnya persaingan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 membuat siswa kelas XI SMAN 1 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), itu harus berhadapan bukan hanya dengan soal-soal sulit, tapi juga dengan tekanan mental.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

NAMUN ketika keinginan untuk menyerah mulai muncul, Axel kembali mengingat alasan mengapa ia berada di sana. Waktu belajar yang telah dilalui, doa kedua orang tua, dukungan para guru, hingga amanah membawa nama Kalimantan Tengah menjadi kekuatan yang membuatnya kembali melangkah.

Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Axel berhasil meraih medali perunggu bidang biologi pada OSN jenjang SMA/MA/SMK Tingkat Nasional 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, pada 14 sampai 19 September 2026.

Bagi Axel, medali tersebut bukan sekadar penghargaan atas hasil perlombaan. Di baliknya terdapat perjalanan panjang yang menguji kemampuan, fokus, sekaligus mental kompetitifnya.

“Saya merasa sangat bangga bisa mengharumkan nama baik sekolah saya, juga bumi Kalimantan Tengah dalam kancah olimpiade tertinggi di Indonesia, yaitu Olimpiade Sains Nasional,” ungkap Axel, Minggu (20/9/2026) lalu.

Axel mengaku pelaksanaan OSN 2026 menjadi pengalaman yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Dalam dua hari perlombaan, ia merasa tidak banyak memiliki waktu untuk sekadar berhenti dan beristirahat.

Setiap tahapan menghadirkan tantangan baru. Ia dituntut untuk tetap berkonsentrasi dan mempertahankan mental kompetitif meski tubuh mulai lelah.

“Selama pelaksanaan OSN 2026 ini, saya merasakan jiwa kompetitif saya diuji dengan keras. Dalam waktu dua hari perlombaan, saya tidak diberikan waktu untuk berpikir dan beristirahat. Meskipun demikian, saya harus bisa maju tiap harinya melawan tantangan yang baru,” akuinya.

Di tengah tekanan tersebut, sempat muncul rasa ingin menyerah. Namun Axel memilih mengingat kembali perjalanan yang telah membawanya sampai ke panggung nasional.

Ia teringat waktu belajar yang telah dicurahkan, doa keluarga yang menyertainya, serta tanggung jawab untuk membawa nama Kalteng.

Hal-hal tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangannya tidak hanya untuk dirinya sendiri. Dari titik itulah Axel berusaha kembali mengumpulkan kekuatan.

Setiap tantangan yang datang dihadapinya satu per satu hingga akhirnya namanya masuk sebagai salah satu peraih medali OSN 2026.

Bagi guru pendampingnya, Endang, kabar tersebut menjadi momen yang sulit dilupakan. Saat pengumuman disampaikan dalam acara penutupan OSN Nasional 2026 di UMM Malang, rasa syukur, haru, bahagia, sekaligus tidak percaya bercampur menjadi satu.

“Ada rasa syukur, haru, bahagia, dan rasa tak percaya, karena ini merupakan suatu pencapaian yang menurut saya sangat luar biasa. Mengingat di ajang lomba ini, murid kami memperoleh medali perunggu,” ujar Endang.

Menurut Endang, medali tersebut tidak lahir dari perjuangan Axel seorang diri. Ada dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, MKKS Kotawaringin Timur, komite sekolah, kepala SMAN 1 Sampit, para guru biologi, hingga alumni yang ikut membantu mempersiapkan Axel menghadapi kompetisi.

Keluarga inti Axel juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dukungan dan doa yang diberikan selama proses persiapan menjadi salah satu sumber kekuatan ketika Axel menghadapi tekanan kompetisi.

Bagi Endang, medali perunggu ini bukan garis akhir. Justru menjadi awal bagi Axel untuk menorehkan pencapaian-pencapaian berikutnya.

“Terima kasih karena ibu diberi kesempatan untuk mengenalmu dan membersamaimu dalam awal sebuah pencapaian yang luar biasa. Ibu berharap ke depannya akan ada lagi hal-hal yang lebih hebat dan luar biasa. Teruslah bersinar tanpa meredupkan yang lain dan ingat, jujur itu juara. Salam sukses,” pesannya.

Kini, setelah perjuangan panjang itu terlewati, Axel tidak ingin medali perunggu menjadi sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap keberhasilannya dapat menjadi pemantik semangat bagi pelajar lain di Kalteng untuk berani bermimpi dan menguji kemampuan di bidang sains.

Menurut dia, talenta-talenta muda Kalteng memiliki kesempatan untuk tampil di tingkat nasional apabila mendapat dukungan dan pembinaan berkelanjutan.

“Saya yakin dengan berlanjutnya dorongan masif dari provinsi, serta integrasi mentalitas kejuaraan pada tiap sekolah, kita dapat membuktikan bahwa Kalteng sangat layak untuk berdiri di panggung nasional,” pungkasnya.

Medali perunggu itu pun menjadi penanda sebuah perjalanan. Perjalanan seorang siswa dari Sampit yang sempat merasa ingin menyerah, tetapi memilih terus melangkah karena teringat pada perjuangan, doa, dan amanah yang dibawanya.

Dan pada akhirnya, langkah itu membawanya pulang dengan sebuah medali serta cerita yang jauh lebih besar dari sekadar angka di papan prestasi. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *