Ruang Terbuka Hijau di Jantung Kota Palangka Raya
Suasana berbeda terasa di kawasan Bundaran Besar, Kota Palangka Raya, sejak akhir pekan lalu. Ruang terbuka hijau (RTH) yang resmi dibuka Sabtu (2/5/2026) itu menjadi magnet baru bagi warga Kota Cantik. Apalagi peresmiannya bertepatan dengan momen car free night yang dihadiri Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, membuat kawasan ini makin ramai diserbu pengunjung.
RICKY THEODORUS, Palangka Raya
RTH hadir bukan sekadar mempercantik wajah kota. Di tengah padatnya aktivitas perkotaan, ruang hijau ini jadi tempat “napas” baru bagi masyarakat. Hamparan area terbuka, jalur pejalan kaki, hingga ruang santai membuat masyarakat punya alternatif lokasi untuk melepas penat tanpa harus jauh-jauh keluar kota.
Menariknya, posisi RTH ini berdampingan langsung dengan Grand Talawang yang berada langsung di tengah Bundaran Besar Palangka Raya. Perpaduan ini menciptakan suasana unik, antara ruang modern dengan sentuhan ikon budaya khas Kalimantan Tengah. Saat sore hari, kawasan ini terasa hidup dengan aktivitas warga yang datang silih berganti.
Bukan cuma ruang hijau biasa, kawasan ini juga dilengkapi lorong bawah tanah yang menghubungkan RTH dengan Bundaran Besar. Lorong ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Banyak pengunjung memanfaatkannya untuk berjalan santai, berfoto, atau sekadar menikmati suasana yang berbeda dari ruang terbuka di atasnya.
Kepala Dinas PUPR Kalteng Joni Gultom menyebutkan, RTH ini memang dirancang sebagai ruang publik multifungsi. Selain untuk rekreasi, kawasan ini juga punya sisi edukasi. Di dalamnya terdapat museum budaya yang menampilkan berbagai peninggalan dan warisan leluhur Kalimantan Tengah.
“Di kawasan ini juga ada museum budaya yang memuat berbagai peninggalan nenek moyang kita,” jelasnya.
Kehadiran fasilitas ini membuat RTH bukan hanya tempat nongkrong, tapi juga ruang belajar sejarah yang dikemas santai dan dekat dengan masyarakat.
Bagi warga, kehadiran RTH ini langsung terasa manfaatnya. Devin, salah satu pengunjung, mengaku kini punya tempat baru untuk rutin berolahraga. “Setiap sore saya joging di bundaran. Sekarang ada RTH yang suasananya masih baru dan lagi ramai. Jalurnya nyaman buat lari santai, habis itu bisa istirahat atau lihat-lihat orang foto di lorong,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Siska. Menurutnya, suasana ramai sore hingga malam justru jadi daya tarik tersendiri. Apalagi dengan suasana malam yang gemerlap. “Kalau sore memang padat. Tapi itu yang bikin seru. Saya sama teman-teman suka foto di lorong bawah. Spot di atas juga bagus. Apalagi langsung menghadap Grand Talawang,” ujarnya.
Ke depan, masyarakat berharap kawasan ini bisa terus dijaga dan dirawat. Sebab RTH di jantung kota ini bukan hanya sekadar ruang terbuka. Tapi juga simbol bagaimana pembangunan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan budaya di Bumi Tambun Bungai. (ter/ens)












