Kisah Perjuangan Masrul Anak Transmigrasi Lulus 3,5 Tahun Tanpa Skripsi
Anak transmigrasi terkadang diidentikan dengan kemiskinan, terbelakang, berpendidikan rendah. Padahal banyak anak transmigrasi yang sukses dan berprestasi di dunia Pendidikan.
Kisah ini dialami Masrul Maulana Pratama. Anak transmigrasi dari Desa Garantung Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau. Ia seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, mahasiswa Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.
Ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya dalam waktu 3,5 tahun tanpa skripsi, setelah artikel ilmiahnya terbit di jurnal nasional terindeks SINTA 2 dengan posisi sebagai penulis pertama. Kelulusan melalui publikasi ilmiah tersebut menjadi alternatif akademik yang menuntut kualitas riset, ketekunan, serta kemampuan menulis ilmiah yang matang.
Masrul mampu memanfaatkan peluang itu dengan menghadirkan penelitian yang dinilai layak terbit pada jurnal bereputasi nasional. Artikel yang mengantarkannya lulus berjudul “Julia Kristeva Intertextual Reconfiguration of Interpretation of Rūḥ al-Qudus: An Analysis of Tafsīr ath-Ṭhabarī and al-Kabīr on Q.S. Al-Baqarah [2]:87.”
Penelitian tersebut membahas kajian tafsir dengan pendekatan intertekstualitas Julia Kristeva, serta menelaah penafsiran klasik terhadap konsep Rūḥ al-Qudus dalam dua kitab tafsir besar.
Kesempatan konversi publikasi ilmiah sebagai pengganti skripsi menjadi dorongan tersendiri baginya untuk lebih serius menekuni dunia riset sejak dini. Menurutnya, jalur tersebut bukan sekadar cara menyelesaikan studi, tetapi juga ruang untuk memberi kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan Islam.
“Saya melihat ini sebagai peluang yang sangat baik. Selain menyelesaikan kuliah, hasil penelitian juga bisa memberi manfaat akademik dan dibaca lebih luas,” ujarnya.
Lahir pada 15 Maret 2004 di sebuah desa di Kabupaten Pulang Pisau, perjalanan Masrul menuju capaian akademik tidak datang secara instan. Ia menempuh pendidikan menengah di MAN 2 Pulang Pisau sebelum melanjutkan studi di UIN Palangka Raya.
Selama menjadi mahasiswa, Masrul dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kampus maupun di luar kampus. Ia terlibat di sejumlah organisasi Internal dan Eksternal serta komunitas kepemudaan, menjalankan program pembinaan pelajar di Kalimantan Tengah, hingga menerima amanah kegiatan pembinaan di luar provinsi. Kesibukan tersebut tidak membuat aktivitas akademiknya terabaikan.
Selain aktif di bidang sosial, ia juga kerap mengikuti perlombaan ilmiah, konferensi nasional maupun internasional, kegiatan dakwah, serta berbagai forum kepemudaan. Masrul juga tercatat memiliki pengalaman sebagai narasumber dalam sejumlah kegiatan pendidikan dan pengembangan generasi muda.
Di bidang penelitian, fokus utama Masrul berada pada kajian al-Qur’an dan tafsir, terutama yang diintegrasikan dengan realitas sosial serta kearifan lokal Kalimantan. Ia melihat nilai-nilai keislaman perlu terus dikontekstualisasikan dengan budaya lokal agar tradisi daerah tetap hidup dan memiliki legitimasi akademik.
Atas kiprahnya tersebut, Masrul juga terpilih sebagai Juara 1 Duta Peneliti Muda Studi Kalimantan 2026. Penghargaan itu diberikan kepada figur muda yang dinilai memiliki gagasan riset inovatif dan berkontribusi terhadap pengembangan daerah.
Menurut Masrul, kunci menjalani banyak aktivitas sekaligus adalah disiplin dalam mengatur waktu serta memahami prioritas. Baginya, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga hadir memberi manfaat bagi masyarakat.
“Kuliah adalah kewajiban, tetapi memberi manfaat kepada sesama juga tanggung jawab. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kampus dan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain bahwa kelulusan tepat waktu, produktivitas riset, serta aktivitas sosial dapat berjalan beriringan apabila dikelola dengan sungguh-sungguh. (to)












