Mantan Pekerja Tambang Emas di Tengah Jalanan Kota Palangka Raya
Di tengah keramaian car free fay (CFD) yang dipenuhi tawa anak-anak, musik jalanan, dan pedagang kaki lima, ada sosok Spiderman tampak berkeliling menyapa pengunjung. Bukan adegan film, bukan pula pertunjukan resmi, melainkan realitas baru yang dijalani Agus (30), seorang mantan pekerja tambang emas yang kini menggantungkan hidup dari kostum superhero di jalanan Kota Palangka Raya.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
PENUTUPAN tambang emas tempat ia bekerja menjadi titik balik hidup Agus. Dari pekerjaan yang dulu menjadi sumber penghidupan utama, ia tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit. Kehilangan pekerjaan dan pendapatan tetap. Dalam kondisi tanpa kepastian, ia sempat menganggur selama kurang lebih satu tahun.
“Tambang ditutup, kondisi juga tidak memungkinkan lagi. Saya sempat tidak kerja setahun,” ungkapnya saat ditemui di sela aktivitasnya di kawasan CFD Kota Palangka Raya, Minggu (19/4/2026).
Dari situ, jalan hidup Agus berubah arah. Tanpa modal besar dan tanpa pekerjaan tetap, ia mulai mencari cara untuk tetap bisa bertahan hidup. Hingga akhirnya ia memutuskan mengenakan kostum spiderman ikon superhero yang akrab bagi anak-anak dan turun ke ruang publik sebagai badut jalanan.
Sebelum dikenal sebagai “Spiderman CFD”, Agus adalah pekerja tambang emas tradisional. Pekerjaan itu memberinya penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun ketika operasi tambang berhenti, kehidupan ekonominya ikut runtuh.
Situasi tersebut membuatnya harus mencari alternatif lain. Ia mengaku tidak ingin mengambil jalan yang melanggar hukum hanya demi bertahan hidup. “Daripada tidak ada kerjaan, daripada sampai harus melakukan hal yang tidak baik, lebih baik cari rezeki halal saja,” ujarnya pelan.
Keputusan itu tidak datang dengan mudah. Dunia yang ia masuki kini sangat berbeda dari tambang yang penuh kerja fisik berat di alam terbuka. Kini ia harus berdiri berjam-jam di tengah keramaian, dengan kostum tebal yang membungkus seluruh tubuhnya.
Setiap akhir pekan, Agus biasanya mulai beraksi di area CFD. Dengan kostum spiderman berwarna merah-biru, ia berjalan di antara kerumunan, menyapa anak-anak, dan sesekali berpose untuk foto bersama.
Selain CFD, ia juga kadang mangkal di kawasan bundaran kota, terutama pada malam minggu ketika keramaian meningkat. Di waktu-waktu tertentu, ia juga menerima pekerjaan tambahan seperti membantu merumput di lahan milik warga sekitar.
Pekerjaan sebagai badut jalanan ini ia jalani secara mandiri. Kostum spiderman yang digunakannya ia pesan melalui platform daring. Dari sana, ia mulai mencoba peruntungan sebagai hiburan keliling. “Pakai kostum ini sudah sekitar satu tahun,” katanya.
Dari pekerjaannya ini, Agus tidak memiliki pendapatan tetap. Namun ia memperkirakan penghasilan di akhir pekan bisa mencapai sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari. Tergantung ramai atau tidaknya pengunjung.
Pada momen tertentu, penghasilan itu bisa meningkat. Ia pernah diundang mengisi acara ulang tahun anak, dengan bayaran sekitar Rp 300.000 untuk satu sesi yang berlangsung dari pagi hingga sore. “Kalau ada yang undang ulang tahun, pernah juga. Tapi tidak sering,” ujarnya.
Meski terlihat sederhana, penghasilan tersebut menjadi penopang utama kehidupannya saat ini. Ia mengandalkannya untuk kebutuhan makan sehari-hari. Terutama karena dukungan keluarga yang terbatas dan sebagian besar keluarganya berada di daerah lain di Jawa.
Di balik tampilan ceria spiderman yang menghibur anak-anak, ada tantangan fisik yang tidak ringan. Kostum tebal yang dikenakan Agus membuatnya kesulitan bernapas. Terutama saat cuaca panas di siang hari. “Memang agak pengap, susah napas. Tapi masih bisa dijalani,” katanya.
Meski begitu, ia mengaku sudah terbiasa. Baginya, rasa tidak nyaman itu masih lebih ringan dibanding ketidakpastian hidup tanpa penghasilan. Ia juga menyadari bahwa pekerjaannya mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun ia memilih untuk tetap menjalani dengan ikhlas.
Kisah Agus mencerminkan dampak langsung perubahan ekonomi di tingkat lokal. Penutupan tambang emas tidak hanya memengaruhi pemilik usaha, tetapi juga para pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
Bagi Agus, transisi ini berarti harus beradaptasi dengan cepat tanpa banyak pilihan. Dari pekerjaan yang stabil di sektor tambang, ia kini beralih ke sektor informal yang penuh ketidakpastian.
Meski demikian, ia masih berusaha mempertahankan martabatnya sebagai pencari nafkah. Ia menolak untuk menganggur terlalu lama dan memilih turun ke jalan dengan cara yang ia anggap masih layak.
Di tengah kerasnya kehidupan, Agus tidak memasang target besar. Ia hanya berharap bisa terus bertahan dan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk makan sehari-hari. “Yang penting bisa makan, bisa jalan terus,” katanya singkat.
Ia juga berharap suatu saat ada pekerjaan yang lebih stabil, sehingga ia tidak harus terus-menerus bergantung pada kostum spiderman di jalanan.
Namun untuk saat ini, spiderman adalah identitas sekaligus sumber penghidupannya. Di balik topeng itu, ada seorang pria yang berjuang menghadapi realitas ekonomi yang berubah drastis dari tambang emas yang dalam ke jalanan kota yang ramai.
Dan di setiap tawa anak-anak yang ia hibur di CFD, tersimpan cerita tentang ketahanan, adaptasi, dan usaha seorang warga biasa untuk tetap berdiri di tengah kerasnya kehidupan. (ifa/ens)












