Feature

Lebih Hemat dan Leluasa Menuju Kampung Halaman

295
×

Lebih Hemat dan Leluasa Menuju Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini
NAIK KAPAL : Salah satu perantau membawa sepeda motor ke dalam KM Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama yang akan bertolak dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Sabtu (7/3/2026). APRI/RADAR KALTENG

Petualangan Pemudik dari Sampit Pakai Sepeda Motor

Suasana Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu pagi (7/3/2026), dipenuhi aktivitas para pemudik. Mereka bersiap menyeberang menuju Pulau Jawa. Ratusan penumpang tampak memadati area pelabuhan dengan berbagai barang bawaan. Mulai koper, tas besar, hingga kardus berisi oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.

SINDY APRIANSYAH, Sampit

NAMUN di antara keramaian itu, terdapat pemandangan yang cukup menarik perhatian. Sejumlah pemudik terlihat menuntun sepeda motor mereka masuk dalam kapal. Ikut menyeberangi laut bersama perjalanan mudik yang mereka jalani.

Pemandangan tersebut terlihat saat Kapal Motor (KM) Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) bersiap bertolak dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kapal jenis roll-on roll-off (roro) ini memang dirancang untuk mengangkut penumpang sekaligus kendaraan. Karena itu, sebagian pemudik memanfaatkan fasilitas tersebut dengan membawa sepeda motor mereka agar bisa langsung melanjutkan perjalanan darat setelah tiba di Pulau Jawa.

Salah satunya adalah Wahyu, warga Jalan Samekto Sampit yang hampir setiap tahun pulang ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. Pria yang telah empat tahun bekerja sebagai sopir itu mengaku sejak dua tahun terakhir memilih membawa sepeda motor saat mudik karena dinilai lebih hemat sekaligus memberikan keleluasaan dalam perjalanan darat di Pulau Jawa.

Dengan membawa kendaraan sendiri, ia tidak perlu lagi bergantung pada transportasi umum ketika melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. “Kalau bawa motor lebih hemat. Dari Surabaya sampai Solo paling habis sekitar Rp350 ribu untuk bensin. Kalau naik travel bisa jauh lebih mahal,” ujarnya.

Ia juga tidak terburu-buru menuju Solo setelah kapal bersandar di Surabaya. Wahyu justru berencana menyusuri jalur Pantai Utara Jawa sambil singgah di beberapa kota untuk menemui teman-temannya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kampung halaman.

Cerita serupa datang dari pemudik lainnya, Rizal, warga Kecamatan Tualan Hulu yang tahun ini untuk pertama kalinya mudik dengan membawa sepeda motor dari Sampit menuju Kediri, Jawa Timur. Pria yang sudah lima tahun merantau di Kotim itu mengaku sengaja membawa kendaraan pribadinya karena di kampung halaman tidak memiliki sepeda motor yang bisa digunakan untuk beraktivitas selama Lebaran.

“Di rumah tidak ada motor, jadi kalau mau ke mana-mana harus pinjam. Makanya sekarang sekalian bawa dari Sampit supaya bisa dipakai jalan-jalan di Kediri,” katanya.

Dari Surabaya, ia memperkirakan perjalanan menuju Kediri menempuh jarak sekitar 110 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan jika kondisi jalan lancar.

Pada keberangkatan tersebut, KM Kirana III mengangkut sebanyak 592 penumpang dari Pelabuhan Sampit menuju Surabaya. Kapal itu juga membawa sekitar 25 kendaraan campuran. Termasuk mobil dan sepeda motor milik pemudik yang memilih membawa kendaraan pribadi mereka menyeberangi lautan.

Bagi sebagian perantau, mudik bukan hanya soal pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Perjalanan panjang itu juga menjadi bagian dari cerita. Dari menyeberangi laut hingga menyusuri jalanan Pulau Jawa. Begitulah mereka mengartikan sebuah perjalanan yang sarat rindu menuju kampung halaman. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *