Melihat Aktivitas Sanggar Tampung Karuhe di Sampit
Di salah satu sudut halaman SMK Bhakti Mulya, Jalan Jenderal Sudirman, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dentang musik tradisional berpadu dengan hentakan kaki yang ritmis. Pagi itu, puluhan remaja berbaris rapi, mengulang gerakan demi gerakan dengan wajah serius kadang tersenyum, kadang mengernyit menahan lelah.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
SEJAK berdiri pada 2012, Sanggar Tampung Karuhe tak pernah benar-benar sepi. Silih berganti generasi datang dan pergi. Ada yang hanya singgah sebentar, ada pula yang bertahan bertahun-tahun. Tumbuh bersama irama dan makna setiap gerakan.
Pelatih tari, Ekstrajaya, menyebutkan saat ini sekitar 70 peserta pemula aktif berlatih. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun baginya, angka bukanlah hal utama. Yang lebih penting adalah komitmen. “Banyak yang datang karena penasaran. Tapi yang bertahan biasanya mereka yang memang punya rasa cinta,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Di antara barisan penari muda itu, ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada pula yang sudah remaja. Mereka belajar dari nol. Mulai dari sikap tubuh, ketepatan langkah, hingga cara mengekspresikan rasa.
Gerakan tasai, kenyah, nganjan, hingga tigal bukan sekadar rangkaian koreografi. Setiap ayunan tangan dan hentakan kaki menyimpan filosofi tentang keberanian, penghormatan terhadap alam, serta keseimbangan hidup masyarakat Dayak pedalaman.
Untuk bisa tampil di panggung sederhana atau mengikuti lomba, mereka harus berlatih rutin tiga hingga empat kali seminggu. Selama sedikitnya tiga bulan. Itu baru permulaan. Untuk benar-benar matang sebagai penari tradisional, diperlukan waktu bertahun-tahun. “Menari itu bukan cuma hafal gerakan. Ada wiraga, wirasa, mental, dan jam terbang. Semua butuh proses panjang,” kata Ekstrajaya.
Tak jarang, latihan berlangsung hingga malam. Keringat bercucuran, kaki pegal, namun semangat tetap menyala. Di sela latihan, tawa pecah ketika ada gerakan yang keliru. Suasana hangat itulah yang membuat sanggar terasa seperti rumah kedua.
Tantangan terbesar datang ketika para penari beranjak dewasa. Banyak yang harus meninggalkan sanggar saat melanjutkan kuliah ke luar daerah. Namun kekosongan itu selalu terisi.
Generasi baru terus berdatangan. Anak-anak kecil yang awalnya hanya menonton, lama-lama tertarik ikut bergabung. Mereka melihat kakak-kakaknya tampil di panggung, mengenakan busana adat dengan penuh percaya diri. “Memang ada yang berhenti karena sekolah atau kuliah. Tapi nanti ada lagi yang masuk. Regenerasi itu pasti,” ujarnya optimistis.
Bagi Ekstrajaya, menjaga eksistensi tari tradisional bukan hanya soal mempertahankan jadwal latihan atau memenangkan lomba. Lebih dari itu. Ini tentang menjaga identitas.
Ia percaya, ketika generasi muda berhenti mengenal budayanya sendiri, ruang kosong akan mudah diisi oleh budaya luar. Karena itu, ia tak pernah lelah mengajak anak-anak untuk bangga pada warisan leluhur.
Di tengah gempuran zaman, di sudut Kota Sampit yang sederhana itu, tarian Dayak tetap hidup berdenyut bersama semangat generasi muda yang memilih untuk tidak melupakan akar budayanya. (pri/ens)












