Palangka Raya Bersiap Menyambut Ramadan
KAMIS pagi (12/2/2026), Palangka Raya tak sekadar ramai. Kota ini berdenyut oleh langkah ribuan orang berjalan bersama dalam satu tujuan. Yaitu menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Sepanjang rute pawai Tarhib Ramadan, senyum, lantunan shalawat, serta warna-warni kostum peserta menyatu, menghadirkan suasana hangat yang menandai bulan penuh berkah sudah di depan mata.
SITI NUR MARIFA, Palanga Raya
TARHIB Ramadan yang digelar oleh DPW BKPRMI Kalimantan Tengah (Kalteng) ini menjadi ruang ekspresi keimanan sekaligus silaturahmi akbar masyarakat. Dari anak-anak usia dini hingga orang dewasa, dari pelajar hingga komunitas umum, semuanya hadir membawa semangat yang sama menyambut Ramadan dengan kegembiraan dan harapan.
Ketua Umum DPW BKPRMI Kalteng Rus’ansyah menyebut, Tarhib Ramadan sebagai wujud kesiapan masyarakat dalam menyambut bulan suci. “Sebagai masyarakat Kalteng, khususnya Kota Palangka Raya, kita menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan keberkahan. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bentuk nyata kesiapan kita semua, sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat bahwa Ramadan sudah semakin dekat,” ujar Rus’ansyah, Kamis (12/2/2026).
Menurut dia, momen Tarhib Ramadan diharapkan menjadi ajang silaturahmi yang mampu memperkuat iman dan takwa, menumbuhkan kebersamaan, serta memperkuat kolaborasi antarelemen masyarakat. “Dengan kebersamaan inilah kita berharap cita-cita mewujudkan Kalteng yang semakin berkah bisa terwujud,” tambahnya.
Di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan di Kalteng, Ramadan juga dimaknai sebagai momentum memperkuat toleransi. Rus’ansyah menegaskan bahwa nilai-nilai Ramadan tidak hanya berdampak pada umat Islam saja, tapi juga pada harmoni sosial secara luas.
“Ramadan justru menjadi momentum untuk meningkatkan toleransi, baik antarumat beragama, intern umat beragama, maupun di tengah seluruh lapisan masyarakat. Dengan semangat Ramadan, kita ingin menjaga keberagaman, memperkuat kebersamaan, dan menciptakan suasana yang damai di Kalteng,” jelasnya.
Nilai toleransi ini terasa kuat sepanjang pawai. Warga yang menonton di pinggir jalan tampak antusias, mengabadikan momen, melambaikan tangan, dan menyambut peserta dengan senyum. Ramadan, sebelum benar-benar dimulai, sudah lebih dulu mengajarkan tentang kebersamaan.
Tarhib Ramadan tahun ini bukan hanya tentang berjalan beramai-ramai. Kreativitas menjadi napas utama kegiatan. Setiap rombongan tampil dengan tema unik dan penuh makna, seolah ingin menyampaikan pesan Ramadan dengan cara yang menyenangkan.
Aksi drumband anak-anak menjadi salah satu magnet perhatian. Dengan seragam cerah dan langkah kecil yang kompak, mereka menabuh drum dengan penuh semangat. Dentuman ritmis berpadu dengan teriakan penyemangat, membuat suasana pawai semakin hidup. Bagi anak-anak ini, Tarhib Ramadan bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi pengalaman berharga yang akan mereka kenang.
Tak kalah menarik, sejumlah peserta mengusung tema kuliner khas Ramadan. Replika kue basah yang identik dengan menu takjil ditampilkan secara kreatif, lengkap dengan warna dan bentuk yang menggugah selera. Ada pula rombongan yang menghadirkan snack kering yang dikreasikan menyerupai masjid, dengan detail kubah dan menara yang mencuri perhatian.
Tema-tema ini bukan sekadar hiasan. Di baliknya tersimpan pesan tentang berbagi, kebersamaan saat berbuka puasa, dan kehangatan Ramadan yang selalu dirindukan setiap tahun.
Untuk menjaga kualitas dan semangat kompetisi, panitia menghadirkan dewan juri khusus yang berjumlah sekitar lima orang. Dewan juri berasal dari unsur profesional, tokoh masyarakat, pengurus BKPRMI, serta Dewan Masjid.
“Yang dinilai antara lain jumlah peserta atau rombongan, tampilan dan pernik-pernik yang ditampilkan. Namun yang paling penting adalah tulisan atau tema pada spanduk, terutama yang berkaitan dengan ajakan menyambut Ramadan dan meningkatkan ketakwaan,” kata Rus’ansyah.
Pesan-pesan pada spanduk menjadi ruh utama penilaian. Ajakan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman dan takwa, serta harapan menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan, menjadi tema dominan yang menghiasi sepanjang pawai.
Berdasarkan data panitia, Tarhib Ramadan diikuti 112 rombongan dengan jumlah peserta mencapai 10.004 orang. Rinciannya, kategori PAUD/TK/RA 23 peserta, SD/MI/TKA/TPA/SMP/MTs 50 peserta, kategori SMK/universitas/umum 18 peserta, serta kategori mobil hias 21 peserta.
Panitia juga menyesuaikan rute dan titik finis berdasarkan kategori peserta. Untuk PAUD, TK, dan RA, jarak tempuh dibuat lebih pendek demi keamanan dan kenyamanan anak-anak. Sementara peserta pelajar, umum, dan mobil hias menyelesaikan pawai di titik finis yang sama, yakni di SMK Negeri 3 Palangka Raya.
Di garis finis, kelelahan terbayar oleh rasa bahagia. Tawa, foto bersama, dan obrolan ringan mengalir, menandai berakhirnya pawai namun sekaligus membuka babak baru: persiapan menyambut Ramadan dengan hati yang lapang.
Tarhib Ramadan di Palangka Raya tahun ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi potret indah bagaimana sebuah kota menyambut bulan suci dengan penuh kegembiraan, kreativitas, dan pesan toleransi. Sebuah pengingat bahwa Ramadan selalu datang membawa harapan, bukan hanya bagi umat Islam, tapi bagi kehidupan sosial yang lebih harmonis. (ifa/ens)












