Feature

Dialog Lima Sungai Kebanggaan Kota Palangka Raya

315
×

Dialog Lima Sungai Kebanggaan Kota Palangka Raya

Sebarkan artikel ini
FOTO BERSAMA : Salah satu penulis dialog lima sungai (Festival Sastra Palangka Raya) Agustiansyah (kiri) foto bersama awak koran Radar Kalteng (kanan), Minggu (25/1/2026).FOTO RADAR KALTENG

Ketika Putra Daerah Bicara Sastra

Dari aliran Sungai Kahayan hingga Barito, Palangka Raya kembali menegaskan dirinya bukan hanya sebagai kota sungai saja. Tapi juga kota yang melahirkan suara-suara sastra. Tahun 2025 menjadi penanda penting lewat terbitnya antologi puisi Dialog Lima Sungai, sebuah karya kolektif yang lahir dari tangan putra-putri Palangka Raya dan Kalimantan Tengah secara umum.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

ANTOLOGI ini bukan sekadar kumpulan puisi. Tapi merupakan pernyataan sikap, bahwa sastra tidak harus lahir dari kota-kota besar di Indonesia. Dari Palangka Raya, para penulis daerah menunjukkan bahwa mereka mampu menghadirkan karya dengan identitas, kedalaman rasa, dan kekuatan lokal yang khas.

“Yang ingin kami wujudkan adalah bahwa tidak hanya kota lain yang bisa membuat antologi puisi. Kita juga bisa,” ujar Agustiansyah, salah satu penulis Dialog Lima Sungai kepada Radar Kalteng, Minggu (25/1/2026).

Bagi Agustiansyah, buku ini adalah ruang pembuktian sekaligus ruang perayaan bagi penulis daerah.

Sebanyak 242 puisi masuk dalam proses seleksi. Dari jumlah tersebut, 121 puisi dinyatakan lolos dan dibukukan. Para penulisnya datang dari beragam latar belakang. Namun memiliki satu kesamaan, keterikatan emosional dengan tanah Kalteng dan sungai-sungai yang menjadi nadi kehidupan masyarakatnya.

Judul Dialog Lima Sungai dipilih bukan tanpa alasan. Sungai Kahayan, Barito, dan sungai-sungai lain di Kalteng sejak dahulu menjadi pusat peradaban, jalur perdagangan, akses kehidupan, sekaligus ruang interaksi sosial. Sungai-sungai itu kini “berdialog” kembali, bukan lewat arus air, melainkan melalui larik-larik puisi.

Identitas lokal juga tampak kuat pada visual buku. Ilustrasi kapal, sungai, dan lanskap khas Kalimantan menjadi ciri pembeda yang menegaskan akar budaya antologi ini. Semua elemen dirancang untuk merepresentasikan Palangka Raya, bukan meniru gaya kota lain.

Menariknya, antologi ini tidak diperjualbelikan. Didanai oleh Pemerintah Kota Palangka Raya melalui kerja sama dengan Dewan Kesenian Palangka Raya (DKPR). Buku ini pun diposisikan sebagai milik publik. Buku dibagikan ke penulis, instansi pemerintah, dan perpustakaan. Sementara masyarakat diberi izin mencetak secara mandiri selama tidak mengubah isi. “Ini milik kota, selama tidak ada perubahan di dalamnya, kami membuka ruang seluas-luasnya,” jelasnya.

Lewat Dialog Lima Sungai, sastra tidak hanya menjadi karya baca, tetapi juga simbol kebanggaan daerah. Ia menjadi penanda bahwa Palangka Raya memiliki suara, memiliki cerita, dan memiliki penulis-penulis yang siap berbicara dari daerah, untuk Indonesia, bahkan hingga mancanegara.

Di antara arus sungai yang terus mengalir, puisi-puisi ini menjadi saksi bahwa Palangka Raya bukan hanya dilalui sejarah, tetapi juga menuliskannya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *