Feature

28 Tahun Mengayuh Harapan demi Istri yang Sakit Stroke

357
×

28 Tahun Mengayuh Harapan demi Istri yang Sakit Stroke

Sebarkan artikel ini
MELAYANI : Sarpani, pedagang es potong keliling, saat melayani pembeli yang banyak didominasi anak-anak di Jalan Sakan VIII, Palangka Raya, Sabtu (24/1/2026) lalu. FOTO IFA/RADAR KALTENG

Sarpani, Pedagang Es Potong yang Tak Pernah Menyerah

Di bawah terik matahari Palangka Raya, sebuah sepeda ontel tua melaju perlahan menyusuri jalanan kota. Di atasnya, tersimpan kotak es berwarna hijau berisikan potongan es warna-warni dengan aneka rasa cokelat, stroberi, melon, anggur, susu, hingga durian. Sepeda itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu perjuangan hidup Sarpani, pedagang es potong keliling yang telah 28 tahun mengayuh harapan tanpa henti.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

SARPANI, warga Kota Palangka Raya yang tinggal di Jalan Kalimantan, memulai hari-harinya dengan rutinitas yang nyaris tak pernah berubah. Setiap hari, ia mengayuh sepeda ontel kesayangannya. Dia berkeliling dari satu jalan ke jalan lain, dari Mendawai, Kereng Bangkirai, Pahandut Seberang, hingga Pelabuhan Bukit Pinang.

Tidak ada rute tetap, tidak ada jam pasti. Yang ada hanyalah tekad untuk terus berjualan, apa pun hasilnya. “Jualannya tidak menentu, kadang habis, kadang masih banyak sisa,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

Dalam sehari, pendapatan Sarpani berkisar Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Itu pun biasanya saat awal bulan. Jika ditanya apakah penghasilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia hanya tersenyum kecil. “Ya, di cukup-cukupkan saja,” katanya singkat, seolah kata “cukup” bukan soal angka, melainkan soal keikhlasan.

Di balik kayuhan sepedanya, Sarpani menyimpan beban yang tak ringan. Ia mencari rezeki setiap hari bukan hanya untuk menyambung hidup, tapi juga demi membiayai istrinya yang tengah menderita stroke ringan. Kondisi sang istri membuat Sarpani tak punya banyak pilihan selain terus bekerja, meski tubuh lelah dan usia tak lagi muda.

Usaha es potong yang ia jalani selama puluhan tahun itu bukan miliknya sendiri. Sarpani bekerja sama dengan sang adik. Modal es potong berasal dari adiknya. Sementara Sarpani hanya membayar es yang benar-benar laku terjual, dengan harga Rp 4.000 per lonjor. Sistem sederhana itu menjadi penyelamat, karena ia tak perlu menanggung kerugian jika dagangan tak habis.

Bagi Sarpani, momen yang paling dinanti adalah awal bulan. Di saat itulah, harapan terasa lebih nyata. Ketika banyak masyarakat menerima gaji, penjualan es potongnya ikut terdongkrak. Tak jarang, satu orang pembeli bisa membeli tiga hingga empat lonjor sekaligus. Bahkan, pada hari-hari tertentu, es potongnya bisa habis hingga 30 lonjor dalam sehari. “Kalau awal bulan, alhamdulillah. Lumayan ramai,” terangnya dengan mata berbinar.

Namun selebihnya, hari-hari Sarpani kembali berjalan apa adanya. Mengayuh sepeda, menawarkan es potong dari mulut ke mulut, dan menerima apa pun hasil yang didapat. Tidak ada keluhan panjang, tidak ada penyesalan. Yang ada hanya keteguhan seorang kepala keluarga yang memilih bertahan di jalan yang sudah ia kenal selama hampir tiga dekade.

Di tengah gempuran zaman, ketika kendaraan bermotor dan aplikasi daring menguasai jalanan, sepeda ontel Sarpani tetap setia berkeliling kota. Perlahan, tapi pasti. Seperti hidupnya tak cepat, tak mewah, namun penuh makna.

Selama 28 tahun, Sarpani telah membuktikan bahwa harapan bisa terus dikayuh, selama kaki masih sanggup mengayuh pedal dan hati tetap percaya bahwa rezeki akan selalu datang, meski harus dicari dari satu jalan ke jalan lainnya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *