Dari Emperan Toko ke Rekor MURI
Jarum jam menunjukkan pukul 19:20 WIB, ketika Muhammad Andi akhirnya meletakkan gunting dari tangannya. Tubuhnya lelah, kaki terasa kaku, dan punggungnya nyeri setelah berdiri berjam-jam. Namun di wajahnya, terpancar senyum yang sulit disembunyikan.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
SELAMA 11 jam 40 menit, Andi mencukur rambut 377 kepala tanpa henti. Inilah sebuah pencapaian yang mengantarkannya nama Muhammad Andi masuk dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
“Bangga, haru, senang, semuanya nyampur,” ucap Andi lirih usai menerima penyerahan piagam rekor MURI di Bundaran Besar Palangka Raya, Minggu malam (11/1/2026).
Rekor itu bukan sekadar soal ketahanan fisik. Tapi juga tentang perjalanan hidup panjang yang pernah membawanya tidur di emperan toko, jauh dari sorotan prestasi.
Bertahun-tahun lalu, Andi bukanlah siapa-siapa. Ia tak lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan menghabiskan masa mudanya sebagai anak punk. Jalanan menjadi rumah, konser musik jadi pelarian, dan emperan toko menjadi tempat beristirahat. Rambut, yang kini mengantarkannya ke panggung kehormatan, dulu hanyalah medium ekspresi solidaritas. “Saya dulu tidur di jalan, ikut konser, bantu teman-teman bikin rambut mohawk atau dicat warna-warni,” kenangnya.
Di kamar sempit berukuran 3×4 meter, Andi mulai belajar memangkas rambut. Bukan demi uang, melainkan demi kebersamaan.
Namun waktu berjalan, dan realitas hidup tak bisa dihindari. Orang tua yang semakin menua serta kebutuhan hidup membuat Andi mengambil keputusan besar. Yaitu berbenah.
Bersama sang istri, ia hijrah ke Palangka Raya. Tanpa modal besar, tanpa ijazah, dan tanpa kepastian, Andi memberanikan diri membuka usaha pangkas rambut kecil-kecilan. Dua tahun pertama nyaris tanpa hasil. Pelanggan sepi, penghasilan tak menentu. Namun ia memilih bertahan.
Perlahan, Andi mulai belajar dengan serius. Ia mengumpulkan uang untuk mengikuti pelatihan, seminar, dan workshop barber di berbagai kota. Ia tak hanya belajar teknik memotong rambut, tapi juga manajemen usaha, pelayanan pelanggan, hingga menata interior barbershop.
Usaha itu berbuah. Barbershop Bee, yang ia rintis dari nol, kini berkembang pesat. Lima cabang berdiri di Palangka Raya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda yang bernasib serupa dengannya. “Saya rekrut anak-anak muda yang nggak punya ijazah, tapi mau belajar. Mereka saya latih dari nol,” kata Andi.
Gagasan memecahkan rekor MURI muncul dari keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Setelah sebelumnya meraih Juara 1 Bubble Battle Internasional di Bali, Andi merasa tak ingin sekadar ikut kompetisi lagi. “Belum pernah ada kan uji ketahanan potong rambut kayak gini. Ya sudah, kita coba saja,” ujarnya.
Selama empat bulan, ia mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental. Lokasi pun dipilih dengan sengaja, Bundaran Besar Palangka Raya, ruang publik agar masyarakat bisa menyaksikan langsung.
Rekor dimulai sekitar pukul 07.20 WIB. Peserta datang silih berganti, siswa SMA Negeri 5, masyarakat umum, hingga komunitas ojek online. Sekitar 65 sampai dengan 70 persen peserta adalah siswa SMA. Semua peserta laki-laki, dengan variasi potongan mulai dari cepak, rapi, hingga gaya basket.
Setiap kepala dicukur rata-rata dua menit. Andi hanya berhenti total 1 jam 5 menit untuk istirahat. Selebihnya, ia berdiri, fokus, dan “hajar terus,” seperti pengakuannya. “Capek pasti. Tapi ya dijalani saja,” katanya singkat.
Direktur Operasional MURI Yusuf Ngadri menyebut, ini sebagai rekor baru karena belum pernah tercatat sebelumnya. Muhammad Andi kini menjadi standar nasional untuk katagori uji ketahanan potong rambut. “Kami menyaksikan 377 kepala dicukur secara nonstop. Waktu bersihnya sekitar 11 jam 40 menit. Ini menjadi tolok ukur baru bagi profesi barber di Indonesia,” jelas Yusuf.
Bagi Andi, piagam MURI bukan hanya simbol prestasi. Ia adalah pengingat bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan. Dari anak punk tanpa ijazah hingga pemilik usaha dan pemegang rekor nasional, perjalanan itu ditempuh dengan konsistensi dan keberanian. “Rekor ini bukan hanya buat saya pribadi, tapi juga buat teman-teman barber, buat anak-anak yang merasa nggak punya kesempatan,” ucapnya.
Di tengah sorak-sorai penonton dan kilatan kamera, Andi berdiri bukan sebagai mantan anak jalanan, melainkan sebagai bukti bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa 11 jam 40 menit bisa menjadi puncak dari perjuangan bertahun-tahun.
Dan di balik setiap helai rambut yang jatuh hari itu, tersimpan kisah tentang hidup yang perlahan dirapikan, hingga akhirnya layak dicatat dalam sejarah. (ifa/ens)












