Feature

Memeriahkan HUT RI dan Menghidupkan Budaya, Dari Lomba Menangkap Anak Babi dengan Mata Tertutup

320
×

Memeriahkan HUT RI dan Menghidupkan Budaya, Dari Lomba Menangkap Anak Babi dengan Mata Tertutup

Sebarkan artikel ini
TANGKAP BABI : Lomba menangkap anak babi dengan mata tertutup yang digelar Kerukunan Keluarga Dayak Dusun Maanyan, Lawangan, Tewoyan, Bayan, dan Dusun Malang Kota Palangka Raya dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 RI di Jalan Kenari II, Kota Palangka Raya, Sabtu (8/8/2026). FOTO MEDIA CENTER UNTUK RADAR KALTENG

Mata ditutup pakai kain. Langkah kaki bergerak perlahan. Sementara telinga berusaha menangkap setiap suara yang terdengar dalam arena. Sesekali terdengar teriakan penonton dari berbagai arah. Alih-alih membantu, suara itu justru membuat peserta kebingungan menentukan ke mana harus melangkah menangkap anak babi.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

BEBERAPA saat kemudian, peserta berlari mengejar sesuatu yang bergerak cepat di hadapannya. Namun karena mata tetap tertutup, arah larinya kerap melenceng. Penonton pun pecah dalam gelak tawa.

Begitulah keseruan lomba Nyama Unik atau menangkap anak babi. Event itu digelar Kerukunan Keluarga Dayak Dusun, Maanyan, Lawangan, Tewoyan, Bayan, dan Dusun Malang (KKD Dusmala-Tebama) Kota Palangka Raya di Jalan Kenari II, Palangka Raya, Sabtu (8/8/2026) lalu.

Lomba yang menjadi bagian dari rangkaian memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu dikemas dengan cara yang tidak biasa. Peserta harus menangkap anak babi yang dilepaskan dalam arena berukuran sekitar 5 x 5 meter.

Tantangannya, peserta tidak diperbolehkan melihat. Dengan mata tertutup, mereka hanya mengandalkan insting, pendengaran, serta petunjuk suara dari orang-orang di sekitar arena. Setiap gerakan anak babi menjadi tantangan tersendiri karena peserta harus memperkirakan arah tanpa bantuan penglihatan.

Suasana semakin ramai ketika peserta mulai mengejar. Ada yang berlari ke satu sisi arena, kemudian berbalik setelah mendengar suara dari arah lain. Ada pula yang hampir berhasil menangkap, tapi anak babi lebih dahulu meloloskan diri.

Bagi penonton, tingkah para peserta menjadi hiburan tersendiri. Teriakan dan gelak tawa silih berganti mengiringi setiap upaya peserta menaklukkan tantangan tersebut. Di balik suasana yang penuh tawa itu, Nyama Unik ternyata membawa cerita yang lebih dalam.

Sekretaris Umum KKD Dusmala-Tebama Kota Palangka Raya Harry Araiyanto mengatakan, lomba tersebut terinspirasi dari kebiasaan berburu yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Dusun, Maanyan, dan Lawangan.

“Nyama Unik kalau dalam bahasa Indonesia berarti anak babi. Kegiatan ini sebenarnya mengangkat kebiasaan masyarakat Dayak Dusmala-Tebama yang sejak dahulu memiliki tradisi berburu di hutan. Tradisi tersebut kemudian kami kemas dalam bentuk perlombaan,” ujarnya.

Tradisi berburu tersebut tidak lagi ditampilkan dalam bentuk aslinya. Di tengah kehidupan masyarakat perkotaan, pengalaman dan nilai yang terkandung di dalamnya justru dihadirkan melalui permainan yang lebih sederhana, ringan, dan dapat dinikmati banyak orang.

Karena itu, lomba Nyama Unik bukan semata tentang siapa yang paling cepat menangkap anak babi. Ada upaya memperkenalkan kembali cerita tentang kehidupan masyarakat Dayak kepada generasi muda melalui cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Hal itu pula yang membuat kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari pengunjung. Arik Chris Layar menilai kreativitas KKD Dusmala-Tebama mengemas perlombaan mampu menghadirkan hiburan sekaligus membawa nilai edukasi budaya. “Semoga tahun depan kegiatan seperti ini bisa lebih lancar, lebih meriah, dan semakin berkembang sehingga kegiatan KKD Dusmala-Tebama juga semakin meningkat,” harapnya.

Hari itu, Jalan Kenari II bukan hanya menjadi tempat warga merayakan kemeriahan HUT ke-81 RI.  Arena kecil berukuran 5 x 5 meter tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kehidupan masa kini.

Di sana, mata peserta boleh saja terpejam. Namun melalui suara sorak penonton, gelak tawa, dan semangat kebersamaan warga, sebuah cerita tentang budaya tetap berusaha dihidupkan.

Nyama Unik akhirnya bukan hanya tentang menangkap anak babi dengan mata tertutup. Lebih dari itu, lomba tersebut menjadi cara sederhana warga Dusmala-Tebama untuk berkumpul, bersenang-senang, sekaligus menjaga agar jejak tradisi Dayak tetap dikenal oleh generasi berikutnya. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *