Iswanti Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga 14 Agustus 2026, tercatat 302 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar 496 hektare.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim tak hanya mengandalkan upaya pemadaman di lapangan. Sebagai bentuk ikhtiar, pemerintah daerah berencana menggelar salat Istisqa memohon turunnya hujan.
Wakil Koordinator III Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim Rihel mengatakan, rencana salat Istisqa telah dibahas bersama. Namun waktu dan lokasi pelaksanaan menunggu keputusan lebih lanjut.
“Kami sudah berunding kemarin, mudah-mudahan dilakukan kalau memang ada kesempatan dan waktunya. Rencananya mungkin malam Minggu. Mudah-mudahan dengan salat Istisqa itu hujan bisa turun di wilayah kita,” kata Rihel, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, lokasi salat Istisqa belum ditentukan. Sejumlah pilihan masih dipertimbangkan, termasuk halaman Rumah Jabatan Bupati Kotim maupun Halaman Kantor Bupati Kotim yang sebelumnya pernah digunakan kegiatan serupa.
Karhutla terus bertambah di wilayah Kotim. Berdasarkan data BPBD Kotim per 14 Agustus 2026, selain 302 kejadian dan 496 hektare lahan terbakar, jumlah akumulasi hotspot telah mencapai 2.707 titik.
Upaya pemadaman dilakukan berlapis. Satgas tidak hanya mengerahkan personel dan peralatan melalui operasi darat, tapi juga mendapat dukungan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani dari darat.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah juga masih harus menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026. “Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau itu sampai dengan bulan September dan itu adalah puncaknya untuk kemarau,” jelasnya.
“Nanti mungkin di September minggu kedua atau minggu kesatu nanti ada dirilis ulang lagi, apakah puncak kemarau maju atau mundur. Sampai dengan saat ini belum ada informasi bahwa itu maju atau mundur,” pungkas Rihel.
Kabut asap akibat karhutla mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kotim. Cuaca yang semakin pekat, terutama pada pagi hari, membuat pemda mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Pemkab Kotim menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Kelompok yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih, salah satunya anak-anak usia sekolah.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, pemerintah memahami kekhawatiran masyarakat yang mulai merasakan dampak kabut asap dalam beberapa hari terakhir. “Terima kasih atas perhatian, kepedulian, dan masukan yang telah disampaikan. Kami sangat memahami kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi kabut asap yang saat ini mulai berdampak pada kesehatan, khususnya bagi anak-anak usia sekolah,” kata Irawati, Sabtu (15/8/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Kotim di bawah arahan Bupati Halikinnor telah menerbitkan Surat Edaran Bupati mengenai penyesuaian pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Irawati minta masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap. (pri/ens)












