Feature

Dari Kecintaan Keluarga, Lahir Kerajinan Tangan

710
×

Dari Kecintaan Keluarga, Lahir Kerajinan Tangan

Sebarkan artikel ini
HAN FLOWERS : Riri Handayani ditemani putrinya saat melayani pembeli di stand miliknya Han Flowers, Minggu (7/6/2026). IFA/RADAR KALTENG

Dari Bando Merah Putih, Kreativitas IRT Han Flowers Berbuah Cuan

Di sudut kesibukan seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kalampangan, Kota Palangka Raya, tangan kreatif Riri Handayani tak pernah berhenti bergerak. Dari kawat bulu warna-warni, ia merangkai bunga dan aneka hiasan yang kini dikenal dengan nama Han Flowers.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

NAMA itu bukan tanpa makna. “Han Flowers itu gabungan nama anak-anak,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari kecintaan pada keluarga, lahirlah sebuah usaha kerajinan tangan yang kini merambah toko-toko retail hingga lapak Car Free Day (CFD) di Kota Palangka Raya.

Usaha Riri dimulai setahun lalu, tepat saat momen Agustusan. Kala itu, dia melihat peluang dari ramainya lomba 17-an. Dia pun membuat bando merah putih. Tak tanggung-tanggung, dalam semalam dia menyelesaikan 400 pieces. “Orang-orang lomba, ibu-ibu pakai bando merah putih. Habis,” kenangnya, Minggu (7/6/2026).

Momentum itu menjadi titik awal. Sejak saat itu, dia terus mengembangkan variasi kerajinan dari kawat bulu dan mulai menitipkan produknya di beberapa titik penjualan.

Tak ada kursus khusus, tak ada pelatihan formal. Riri belajar secara otodidak. Inspirasi datang begitu saja. “Dari mana terinspirasi? Dari otak aja pokoknya. Kemauan aja,” katanya ringan.

Sebelumnya, dia sempat membuat tas dari tali dan mencoba bahan akrilik. Namun harga bahan akrilik yang mahal membuat produk sulit bersaing. Tempat pensil akrilik yang dijual Rp 80.000 kurang diminati.

Akhirnya dia beralih ke kawat bulu, bahan lentur berbulu halus yang sering disebut pipe cleaner.

Dia bercerita, satu ikat berisi 100 batang hanya sekitar Rp 20.000. Dengan bahan yang lebih ekonomis, dia bisa menjual produknya dengan harga terjangkau.

Produk Han Flowers dibanderol bervariasi, mulai dari Rp 7.000 untuk ukuran kecil, Rp 25.000 yang paling laris, hingga Rp 130.000 untuk rangkaian bunga besar. “Kalau kita jual mahal, orang tidak beli. Di toko bisa Rp 70.000-Rp80.000, dari kita Rp 40.000,” jelasnya.

Strategi harga terjangkau ini membuat produknya lebih mudah diterima pasar. Produk seharga Rp 25.000 menjadi yang paling laris. Dalam sehari ia bisa membuat hingga 20 buah, meski sering kali waktu terbagi dengan pekerjaan lain.

Awalnya, Riri hanya berjualan secara online. Kini, produknya sudah masuk ke toko retail besar seperti Toko Besar Telaga Biru dan KPD Swalayan. Dia juga rutin berjualan di CFD setiap Minggu.

Dalam satu momen Lebaran Haji, omzetnya bahkan mencapai Rp 2.500.000 dari penjualan di Toko Besar Telaga Biru, terutama untuk kebutuhan parcel.

Setiap pagi dia berjualan, lalu sepulang sekolah melanjutkan membuat bunga. Semua dikerjakan sendiri. “Sanggup?” tanyanya sambil tertawa kecil, seolah menjawab keraguan orang.

Menurut Riri, tak ada yang sulit dari membuat kerajinan ini. Kuncinya kemauan dan ketelatenan. Dia bahkan mulai mengajak anak belajar, siapa tahu bisa menjadi tambahan cuan di masa depan.

Baginya, usaha ini bukan sekadar soal uang, tetapi juga kepuasan berkarya.

Dari kawat bulu sederhana, dia membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari rumah, dari kemauan, dan dari cinta pada keluarga.

Di tangan Riri Handayani, kawat bulu bukan sekadar bahan kerajinan. Dia menjelma menjadi harapan yang dirangkai satu per satu, lalu mekar menjadi peluang. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *