Jerit Pedagang Resmi PPM Sampit yang Merasa Diabaikan
Pagi itu, aroma amis ayam dan ikan bercampur dengan udara lembap yang menggantung di lorong Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Deretan los tampak terbuka. Tapi tak semuanya berpenghuni. Beberapa meja hanya menyisakan talenan tua dan bangku plastik tanpa pemilik.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
DI salah satu sudut, Yani berdiri di balik lapaknya. Tangannya cekatan memotong ayam. Tapi matanya sesekali menyapu lorong yang lengang. Ia sudah lama berjualan di sini. Ia juga sudah cukup lama menyimpan keluhan.
”Kami ini pedagang resmi. Setiap los ada notarisnya. Ada aturannya, tapi sekarang seperti tidak diperhatikan,” ucapnya saat ditemui di lapaknya, Selasa (17/2/2026) lalu.
Keluhan Yani bukan sekadar soal sepinya pembeli. Ia merasa pemerintah daerah kurang serius menata pasar dan menertibkan pedagang yang berjualan di luar area resmi. Di pinggir jalan, tak jauh dari pasar, lapak-lapak dadakan berdiri. Pembeli berhenti sejenak, bertransaksi cepat, lalu pergi tanpa perlu masuk ke dalam pasar.
“Harusnya mereka dimasukkan ke dalam pasar. Los di sini banyak yang kosong. Di Pasar Keramat juga sama. Kenapa tidak difungsikan?” katanya dengan nada tinggi.
Bagi Yani dan pedagang lain, persoalannya bukan semata persaingan. Mereka memahami bahwa semua orang mencari nafkah. Namun ada rasa ketidakadilan ketika pedagang resmi yang mengikuti prosedur dan membayar kewajiban justru harus bersaing dengan lapak liar yang tumbuh tanpa aturan jelas.
“Kami ini ikut aturan. Mereka tinggal bangun di pinggir jalan sudah jadi. Kalau pemerintah mau, pasti bisa mengatur,” tegasnya.
Ia menilai kondisi ini membuat wajah Kota Sampit semakin semrawut. Limbah ayam dan ikan yang dibuang sembarangan menimbulkan bau tak sedap. Air bekas cucian mengalir ke jalan. Pemandangan itu, menurutnya, mencederai upaya menciptakan kota yang bersih dan tertata.
“Sekarang jadi kumuh. Tidak ada lagi kota yang indah dan nyaman. Seharusnya pemerintah fokus menata,” ujarnya.
Di dalam pasar, ironi terlihat jelas. Dua pasar berdampingan, tetapi banyak los kosong. Aktivitas hanya terasa ramai pada hari-hari tertentu. Selebihnya, lorong pasar sunyi. Sementara di luar, aktivitas jual beli justru lebih hidup.
Yani mengaku pendapatannya merosot drastis. Ia memperkirakan penurunan omzet mencapai hampir 70 persen dibandingkan sebelum maraknya pedagang di luar pasar. Kini, ia lebih banyak mengandalkan pembeli dari kebun atau pekerja kapal. Ibu-ibu rumah tangga, yang dulu rutin datang, kini jarang terlihat.
“Kalau pemerintah mau merapikan, ya ditertibkan. Masukkan ke pasar. Biar sama-sama enak, sama-sama tertata,” harapnya.
Meski kecewa, Yani tetap membuka lapaknya setiap hari. Ia tak punya banyak pilihan. Di balik keluhannya terhadap pemerintah daerah, terselip harapan sederhana: agar ada keberpihakan pada pedagang resmi yang selama ini patuh aturan.“Mau bagaimana lagi? Mau makan. Dapur harus tetap mengepul,” katanya lirih.
Di tengah los-los kosong dan lorong yang kian sepi, Yani dan pedagang lain masih bertahan. Mereka menunggu bukan hanya pembeli, tetapi juga kebijakan yang benar-benar hadir untuk mereka. (pri)












