DPRD Palangka Raya

Wadi Berpeluang Jadi Andalan UMKM Lokal

22
×

Wadi Berpeluang Jadi Andalan UMKM Lokal

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Palangka Raya Arif M Norkim.

PALANGKA RAYA – Makanan fermentasi ikan khas Kalimantan Tengah, wadi, memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain mempertahankan kekayaan kuliner daerah, pengembangan wadi juga berpotensi membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya Arif M Norkim mengatakan, potensi kuliner tradisional perlu dioptimalkan melalui inovasi dan pengelolaan usaha yang lebih baik. Dengan demikian, produk lokal tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Wadi ini merupakan salah satu kekayaan kuliner khas Kalimantan Tengah yang harus kita jaga dan kembangkan. Jangan sampai hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga bisa menjadi produk unggulan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Menurut Arif, salah satu langkah yang perlu diperhatikan pelaku UMKM adalah meningkatkan daya tarik produk melalui kemasan, penguatan merek, serta strategi pemasaran yang tepat. Pemanfaatan platform digital juga dinilai penting untuk memperluas jangkauan pasar, sehingga wadi dapat dikenal oleh konsumen di luar daerah.

“Melalui kemasan yang menarik, branding yang kuat, dan pemasaran secara digital, produk wadi bisa lebih dikenal masyarakat luas. Ini menjadi peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga,” ungkapnya.

Arif juga menyoroti pentingnya pendampingan bagi masyarakat agar pengembangan kuliner tradisional dapat berjalan lebih terarah. Ia mengapresiasi kegiatan tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Palangka Raya (UPR) yang memberikan pelatihan pengolahan wadi dan samu ikan patin kepada warga Kelurahan Pahandut Seberang, Kota Palangka Raya.

Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga mencakup literasi digital, pemasaran daring, manajemen usaha, hingga penentuan harga jual produk.

Menurutnya, keterampilan produksi perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola usaha. Dengan bekal tersebut, masyarakat diharapkan dapat menghasilkan produk yang berkualitas sekaligus memahami cara memasarkannya dan menjaga keberlangsungan usaha.

“Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat karena masyarakat dibekali keterampilan produksi sekaligus pengetahuan mengelola dan memasarkan hasil usahanya. Harapannya, potensi lokal bisa dikembangkan menjadi usaha yang lebih produktif dan berdaya saing,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan pihak terkait dapat terus diperkuat untuk mendukung pengembangan produk pangan khas daerah. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga eksistensi wadi sebagai warisan kuliner Kalimantan Tengah sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan perekonomian masyarakat. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *