Kalimantan Tengah

Ormas Islam Desak Pemerintah Pusat Serius Tangani Karhutla di Kalteng

25
×

Ormas Islam Desak Pemerintah Pusat Serius Tangani Karhutla di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Ormas Islam Desak Pemerintah Pusat Serius Tangani Karhutla di Kalteng.

PALANGKARAYA- Para pimpinan Ormas Islam di Kalimantan Tengah mengingatkan siapa saja yang ingin menyampaikan pendapatnya (demo) di tengah masyarakat umum, agar menggunakan cara-cara yang santun serta dengan penuh etika dan adab. Karena Indonesia dengan keanekaragamannya ini memang menganut itu.

Pernyataan ini disampaikan para pimpinan ormas Islam di Kalimantan Tengah, yakni Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof Dr Khairil Anwar, Ketua PW Nadhlatul Ulama (NU) Kalteng  Dr HM.Wahyudie F.Dirun, ketua PW Muhammadiyah Kalteng Prof Dr Ahmad Syari, Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Drs Nurprayudi, dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Prof Bulkani.

Pimpinan Ormas Islam sepakat bahwa masalah Karhutla memang harus ada upaya yang konkrit dari pemerintah, tapi mereka juga memaklumi dengan kondisi saat ini, kebijakan efisiensi dan pemotongan anggaran membuat daerah tidak bisa optimal,

“Secara syariat agama, ummat Islam di Kalteng sudah melaksanakan shalat istisqa, minta hujan kepada Allah, tapi belum terpenuhi, hakikatnya Allah sedang menguji hambanya,” kata Khairil.

Sementara Wahyudie menyampaikan bahwa, ormas Islam dalam waktu dekat juga akan menjumpai Gubernur Kalteng untuk mendiskusikan masalah karhutla ini, apabila perhitungan kemarau ini sampai akhir Nopember baru masuk musim penghujan, mungkin perlu Langkah cepat, supaya semua sarana dan prasarana serta fasilitas diterjunkan ke Kalteng, termasuk anggaran.

“Masalah Karhutla ini masalah kita bersama, jadi tidak etis bila kita hanya menyalahkan pemerintah daerah. Kami lebih menghargai mahasiswa yang berdemo, datang ke Gubernur, lalu menyampaikan aspirasinya dengan penuh santun, sesuai dengan predikat seorang akademik,” kata Ahmad Syari yang diamini Nurprayudi.

Kami kata Syari, berhadap kepada pemerintah pusat di Jakarta agar memberikan perhatian khusus karhutla di Kalimantan Tengah, karena wilayahnya terluas di Indonesia, sementara Pemda dan masyarakatnya sudah berusaha maksimal.

Saat didemo, gubernur Agustiar Sabran justru duduk bak orang merendah, tidak merespon, tidak menjawab bahkan tidak banyak komentar, tapi anehnya para pendemo condong melontarkan kata-kata yang kurang etis. Seolah-olah para pendemo tidak menghargai, seorang Gubernur, ini yang menurut Wahyudie kurang pantas. “Apapun alasannya Gubernur itu simbol daerah,” kata Wahyudie.

Para tokoh agama sepakat mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bersama2 bahu membahu menghadapi masalah, bukan saling hujat dan marah. Karena sikap-sikap demikian justru membuat masalah makin parah.

Kekeringan dan terjadinya degradasi alam menyebabkan bencana karhutla hampir di semua daerah, tidak hanya di Kalimantan Tengah, karena itu seraya tetap memohon ampunan kepada Allah SWT, kami mengimbau semua pihak untuk tetap bersinergi menghadapinya, kata Nurprayudi. (rin/to)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *