Diharapkan Jadi Pemantik Perubahan di Desa
KUALA KURUN – Ratusan mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) mendapat tantangan baru untuk turun ke desa, membaca persoalan masyarakat, lalu menghadirkan solusi nyata. Para mahasiswa UPR itu akan melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di wilayah Gumas.
Ada 224 mahasiswa KKN Reguler Periode I UPR, resmi diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas, Selasa (14/7/2026), di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida). Kehadiran mereka diharapkan bukan sekadar membawa proposal program kerja, tapi juga menjadi energi baru bagi pembangunan desa.
Kepala Bapperida Gumas Yantrio Aulia mengatakan, penerimaan mahasiswa KKN bukanlah agenda seremonial semata. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama Pemkab Gumas dan UPR dalam memperkuat implementasi tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Hari ini kita menerima adik-adik mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi UPR untuk belajar, mengabdi, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun Kabupaten Gunung Mas,” ujar Yantrio.
Ia menjelaskan, mahasiswa tidak hanya akan mendapatkan pembekalan program kerja selama di lokasi KKN, tapi juga dilibatkan langsung dalam berbagai program prioritas pemerintah daerah. Salah satu fokus utamanya ialah percepatan penurunan stunting di desa-desa tempat mereka mengabdi.
Yantrio menegaskan, KKN merupakan ruang belajar sesungguhnya. Di lapangan, mahasiswa dituntut mampu mengubah teori menjadi aksi, membangun komunikasi dengan masyarakat, hingga menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi desa.
“Ilmu tidak cukup hanya disimpan di ruang kelas. Ilmu harus turun ke jalan, masuk ke desa, menyentuh masyarakat, lalu kembali menjadi pengalaman yang membentuk karakter dan kepedulian,” tegasnya.
Dia menyampaikan, keberhasilan KKN tidak hanya bergantung pada mahasiswa. Dukungan pemerintah desa, kelurahan, dosen pembimbing lapangan, hingga masyarakat menjadi faktor penting agar seluruh program berjalan optimal.
Sementara Sekretaris Daerah Gumas Richard FL mengingatkan, desa bukan sekadar lokasi penempatan mahasiswa. Desa sebagai laboratorium kehidupan yang akan mengajarkan banyak hal yang tidak ditemukan di ruang kuliah.
“Di desa, adik-adik akan belajar tentang kehidupan yang sebenarnya. Belajar memahami budaya, kearifan lokal, potensi daerah, hingga persoalan nyata yang dihadapi masyarakat setiap hari. Di situlah ilmu diuji, empati dibangun, dan kepemimpinan ditempa,” katanya. (nya)












