Menanti Piala Dunia 2026 dari Sudut Kota Sampit
Sore itu suasana di sebuah toko perlengkapan olahraga di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, tampak lebih ramai dari biasanya. Deretan jersey berbagai negara tergantung rapi di dinding. Mulai dari Argentina, Brasil, Portugal hingga Belanda. Beberapa pelanggan terlihat memperhatikan satu per satu, membayangkan tim mana yang akan mereka dukung saat pesta sepak bola terbesar dunia kembali digelar mulai 11 Juni 2026.
SINDY APRIANSYAH, Sampit
MESKI Piala Dunia 2026 masih menunggu hitungan waktu untuk bergulir, tapi gaungnya sudah mulai terasa hingga ke pelosok daerah. Di Sampit, euforia itu perlahan hadir melalui meningkatnya minat masyarakat terhadap atribut sepak bola, khususnya jersey tim nasional peserta Piala Dunia.
Fenomena tersebut dirasakan langsung oleh Rudi Abidinsyah, pemilik Rudi Sport yang telah menggeluti usaha perlengkapan olahraga sejak 1994. Selama lebih dari tiga dekade berjualan, ia memahami betul bagaimana turnamen empat tahunan itu selalu membawa cerita tersendiri bagi para pecinta sepak bola.
“Setiap mendekati Piala Dunia biasanya permintaan jersey meningkat. Yang paling banyak dicari tetap tim-tim besar seperti Argentina, Portugal, dan Brasil,” ujar Rudi saat ditemui di tokonya, Sabtu (6/6/2026).
Baginya, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Turnamen itu mampu menghidupkan gairah masyarakat, menciptakan obrolan di warung kopi, layar nonton bareng, hingga memengaruhi tren belanja masyarakat.
Pengalaman bertahun-tahun membuat Rudi hafal pola yang selalu berulang. Penjualan biasanya mulai bergerak menjelang kick off turnamen, kemudian mencapai puncaknya saat kompetisi memasuki babak gugur.
“Biasanya mulai ramai saat 16 besar. Orang-orang sudah mulai fokus mendukung tim yang masih bertahan. Kalau tim yang didukung menang, biasanya mereka semakin semangat membeli jersey,” katanya.
Di rak-rak tokonya, jersey berbagai negara tersedia dengan harga yang cukup beragam. Mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per potong, tergantung kualitas bahan dan jenis produk. Sementara perlengkapan olahraga lainnya seperti sepatu, bola, hingga perlengkapan latihan dijual mulai Rp100 ribu sampai Rp800 ribu.
Namun, di balik angka-angka penjualan itu, ada cerita tentang loyalitas para penggemar sepak bola. Menurut Rudi, meski setiap Piala Dunia menghadirkan tim kejutan, negara-negara dengan sejarah panjang dan koleksi trofi juara dunia tetap menjadi favorit masyarakat. “Yang paling sering dicari tetap negara-negara yang pernah juara dunia. Mereka punya pendukung yang banyak dan loyal,” ujarnya.
Meski demikian, setiap edisi Piala Dunia selalu menghadirkan warna baru. Munculnya pemain-pemain muda berbakat dan tim-tim yang tampil di luar prediksi membuat turnamen ini terus relevan bagi generasi yang berbeda.
“Setiap Piala Dunia punya suasana yang berbeda. Selalu ada pemain baru, tim kejutan, dan penggemar baru yang membuat turnamen ini tetap menarik untuk diikuti,” tuturnya.
Sebagai penggemar sepak bola, Rudi juga memiliki kisahnya sendiri. Ia mengaku sempat kecewa ketika tim favoritnya, Italia, kembali gagal mengamankan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026. Meski demikian, kecintaannya terhadap sepak bola tidak ikut surut.
Kini, dukungannya beralih kepada Belanda, negara yang menurutnya memiliki peluang besar untuk berbicara banyak di turnamen nanti. “Kalau tim favorit saya sebenarnya Italia. Karena tidak lolos, sekarang saya menjagokan Belanda. Menurut saya peluang mereka cukup bagus untuk menjadi juara,” katanya.
Di tengah kesibukannya melayani pelanggan dan menata stok jersey, Rudi menyimpan harapan yang jauh lebih besar daripada sekadar meningkatnya penjualan. Ia berharap suatu hari nanti masyarakat Indonesia tidak lagi hanya membeli jersey negara lain untuk mendukung tim favorit mereka.
Suatu saat, kata dia, jersey merah putih milik Timnas Indonesia bisa menjadi bagian dari perayaan Piala Dunia. “Harapan saya Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia. Semoga sepak bola kita semakin berkembang dan mampu bersaing dengan negara-negara besar,” tandasnya.
Bagi sebagian orang, Piala Dunia mungkin masih beberapa bulan lagi. Namun di sebuah toko olahraga sederhana di Sampit, atmosfernya sudah mulai terasa. Di antara deretan jersey yang menggantung, tersimpan mimpi, loyalitas, dan harapan para pecinta sepak bola yang tak pernah padam menanti pesta terbesar olahraga dunia. (pri)












