Feature

Menampilkan Ranying Suling dan Putir Sikan

49
×

Menampilkan Ranying Suling dan Putir Sikan

Sebarkan artikel ini
TARI : Tim penari dari Kabupaten Murung Raya menampilkan parade tari kreasi daerah dalam rangka FBIM Ranying Suling dan Putir Sikan, Sabtu (23/5/2026) lalu. FOTO DISKOMINFO MURUNG RAYA

Ketika Legenda Mura Menari di Panggung FBIM 2026

Di atas panggung GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Sabtu (23/5/2026), riuh tepuk tangan penonton mengiringi setiap gerak tari yang dibawakan tim Kabupaten Murung Raya. Di antara deretan penampilan parade tari kreasi daerah dalam rangka Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026, satu nama mencuri perhatian juri dan penonton. Yaitu Ranying Suling dan Putir Sikan.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

TAK hanya tampil memukau, karya ini mengantar Murung Raya (Mura) meraih penghargaan sebagai penyaji favorit. Di balik keberhasilan itu, tersimpan sebuah upaya panjang untuk menghidupkan kembali cerita rakyat Dayak Siang yang sarat makna filosofis dan nilai budaya.

Tari kreasi ini bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan sebuah narasi yang menjembatani masa lalu dengan panggung seni modern, menghadirkan kembali legenda yang hidup di tengah masyarakat Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya.

Kisah yang diangkat berpusat pada tokoh Ranying Suling, atau dikenal juga sebagai Unde Tungkan Mata. Ia digambarkan sebagai sosok bermata satu yang sejak awal kehidupannya harus menghadapi penolakan dan keterasingan karena dianggap tidak sempurna.

Namun, dari keterpinggiran itulah perjalanan panjang dimulai sebuah pengembaraan yang membawanya masuk ke belantara kehidupan dan berhadapan dengan berbagai ujian.

Salah satu bagian yang paling dramatis dalam cerita ini adalah pertemuannya dengan Bohuta, anjing gaib penjaga hutan yang menjadi simbol kekuatan alam dan tantangan batin. Adegan ini dihadirkan dalam koreografi yang dinamis, memadukan gerak tradisi Dayak Siang dengan sentuhan artistik kontemporer yang kuat, menciptakan suasana tegang sekaligus magis di atas panggung.

Perjalanan Ranying Suling kemudian membawanya pada pertemuan dengan Putir Sikan, sosok putri dari alam kayangan. Dalam kisah ini, Putir Sikan turun ke dunia dengan menggunakan polangka bulo, piringan emas raksasa yang menjadi simbol keagungan dan keterhubungan antara dunia manusia dan alam atas.

Momen pertemuan keduanya menjadi titik emosional dalam pertunjukan, menggambarkan perjumpaan antara ketulusan dan keindahan yang melampaui batas dunia nyata.

Seiring berjalannya cerita, Ranying Suling menjalani proses panjang penuh pergulatan batin. Setelah bertapa di Gunung Puruk Kambang, ia memperoleh anugerah yang mengubah dirinya menjadi sosok yang gagah dan berwibawa.

Transformasi ini menjadi simbol bahwa penderitaan dan keterasingan dapat bermuara pada penerimaan dan kemuliaan, jika dijalani dengan keteguhan hati.

Akhir kisah mempertemukan kembali Ranying Suling dengan Putir Sikan, yang kemudian menjadikannya sebagai pasangan. Dari legenda ini pula lahir keyakinan masyarakat Dayak Siang tentang Tana Malai, tanah kayangan yang dipercaya sebagai sumber kesejahteraan dan kemakmuran.

Di atas panggung FBIM 2026, seluruh alur cerita tersebut dihidupkan melalui koreografi yang penuh energi, musik pengiring yang kuat, serta visualisasi yang menonjolkan identitas budaya lokal.

Perpaduan itu membuat penonton seolah diajak masuk ke dalam dunia legenda yang selama ini hidup dalam cerita lisan masyarakat.

Apresiasi pun datang dari Bupati Murung Raya Heriyus, yang menyampaikan rasa bangga atas capaian tim tari daerahnya. Ia menilai keberhasilan tersebut bukan hanya soal prestasi di ajang festival, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya yang dikemas secara kreatif.

“Prestasi ini membuktikan bahwa budaya dan legenda daerah Murung Raya memiliki nilai luhur dan daya tarik yang luar biasa. Saya mengapresiasi seluruh tim, seniman, penata tari, penata musik dan para penari yang telah membawa nama Murung Raya meraih kategori penyaji favorit di tingkat Provinsi Kalteng,” ujar Heriyus.

Dia berharap, capaian ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah. Di tengah derasnya arus modernisasi, kisah seperti Ranying Suling dan Putir Sikan diharapkan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi terus hidup melalui seni, pertunjukan, dan kreativitas generasi penerus.

Keberhasilan Murung Raya di FBIM 2026 seakan menegaskan satu hal, bahwa ketika budaya lokal digarap dengan kesungguhan dan kreativitas, ia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing dan memikat perhatian di panggung yang lebih luas lagi. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *