Feature

Penghasilan Tetap, Biaya Operasional Semakin Berat

463
×

Penghasilan Tetap, Biaya Operasional Semakin Berat

Sebarkan artikel ini
ANTAR PAKET : Fathul Muin, kurir SPX (kanan) memberikan paket yang diantarkannya ke warga di Jalan Sakan, Kota Palangka Raya, Jumat (8/5/2026) lalu. IFA/RADAR KALTENG

Sulit Dapat BBM, Kurir SPX Manfaatkan Sepeda Listrik

Panas siang mulai terasa di sekitar kilometer 3 menuju Jalan Sakan, Kota Palangka Raya, Jumat (8/5/2026). Di antara lalu lalang kendaraan bermotor, terlihat satu sepeda listrik melaju pelan membawa tumpukan paket warna cokelat di bagian depan dan belakang.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

PENGENDARA sepeda listrik itu adalah Fathul Muin. Dia adalah seorang kurir SPX. Hari itu, dia mencoba cara baru untuk tetap bekerja di tengah sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) akibat antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Tidak ada suara knalpot atau aroma bahan bakar yang biasanya identik dengan aktivitas kurir pengiriman barang. Yang terdengar hanya dengungan halus dari motor listrik kecil yang menggerakkan sepeda tersebut menyusuri jalanan kota. “Ya mau gimana lagi, BBM kosong, langka. Di pom (maksudnya SPBU) habis semua,” kata Fathul sambil sesekali mengecek paket yang harus diantarnya.

Hari itu menjadi pengalaman pertama bagi Fathul menggunakan sepeda listrik untuk mengantar paket. Keputusan tersebut bukan bagian dari kebijakan perusahaan, melainkan inisiatif pribadi setelah dirinya kesulitan mendapatkan bahan bakar.

Sudah beberapa hari terakhir antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Palangka Raya. Warga harap-harap cemas sambil berharap kebagian stok BBM hingga giliran antreannya tiba.

Bagi masyarakat umum, kelangkaan BBM mungkin hanya membuat perjalanan sedikit terganggu. Namun bagi kurir seperti Fathul, bahan bakar adalah urat nadi pekerjaan. Tanpa pasokan itu, paket-paket pelanggan terancam terlambat sampai tujuan. Padahal target pengiriman tetap harus berjalan seperti biasa. “Uang bahan bakarnya ada sebenarnya dari SPX, cuma BBM-nya yang langka,” ujarnya.

Karena itulah ia meminjam sepeda listrik milik adiknya untuk bekerja. Dengan kendaraan itu, Fathul mencoba menyelesaikan sebagian pengantaran di area dekat seperti kawasan Sakan dan Pelatuk.

Meski terlihat sederhana, mengantar paket menggunakan sepeda listrik ternyata tidak mudah.

Kecepatan kendaraan jauh lebih rendah dibanding sepeda motor. Di sisi lain, daya tahan baterai juga terbatas. Untuk sekali pengisian daya, sepeda listrik yang digunakannya diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga jam. “Kalau motor bisa lebih cepat. Kalau sepeda listrik agak lambat., Tergantung baterai juga,” katanya.

Karena keterbatasan tersebut, Fathul harus menghitung ulang rute pengiriman. Jalan raya dan area yang jauh dihindari karena berisiko menguras baterai lebih cepat. Ia memilih menyelesaikan titik-titik pengantaran terdekat terlebih dahulu. “Hari ini sekitar 69 paket. Yang bisa pakai sepeda listrik cuma 20 paket aja,” ujarnya.

Sisanya masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terjawab. Jika baterai habis, sepeda harus diisi ulang terlebih dahulu sebelum kembali digunakan. “Kalau masih ada paket, ya dicas dulu, nanti lanjut lagi,” katanya sambil tersenyum kecil.

Di tengah keterbatasan itu, Fathul ternyata tidak sendirian. Beberapa rekannya sesama kurir SPX mulai melakukan hal serupa. Sepeda listrik perlahan menjadi solusi darurat bagi para kurir yang bekerja di area dekat gudang distribusi.

Namun kendaraan ramah lingkungan itu belum sepenuhnya bisa menggantikan sepeda motor berbahan bakar minyak.

Untuk rute jauh dan akses jalan besar, para kurir tetap membutuhkan kendaraan bermotor. Bahkan menurut Fathul, penggunaan sepeda listrik di jalan raya sebenarnya tidak diperbolehkan. “Kalau yang jauh-jauh tetap pakai motor,” ucapnya.

Hingga kini belum ada arahan resmi dari perusahaan terkait penggunaan kendaraan listrik sebagai alternatif operasional selama kelangkaan BBM berlangsung. Para kurir memilih mencari jalan keluar sendiri agar pekerjaan tetap berjalan dan pelanggan tetap menerima paket tepat waktu. “Enggak ada imbauan apa-apa. Kepikiran sendiri aja pakai sepeda listrik,” katanya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat kecil dipaksa beradaptasi di tengah situasi krisis. Ketika distribusi BBM tersendat, para pekerja lapangan menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Di satu sisi, sepeda listrik menghadirkan gambaran tentang transportasi yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun di sisi lain, keterbatasan daya tempuh dan infrastruktur membuat kendaraan ini belum sepenuhnya mampu menggantikan motor konvensional untuk pekerjaan berat seperti jasa pengiriman.

Meski begitu, bagi Fathul, yang terpenting hari ini paket tetap sampai ke tangan pelanggan. Sebab di tengah langkanya BBM dan ketidakpastian di jalanan kota, pekerjaan harus tetap berjalan.

Keluhan juga datang dari kurir SPX lainnya, Aris Toman. Menurut Aris, persoalan yang dihadapi para kurir bukan hanya tentang sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak. Tapi juga penghasilan yang dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan sejak tahun 2024. “Dari awal SPX berdiri sampai sekarang belum ada kenaikan gaji yang signifikan,” ujar Aris.

Ia mengatakan perusahaan memang memberikan uang bensin Rp 55 ribu untuk operasional. Namun dalam kondisi normal saja jumlah tersebut dinilai pas-pasan, terlebih saat terjadi kelangkaan BBM seperti sekarang. “Uang bensin memang ada Rp 55 ribu, tapi sekarang tidak cukup lagi karena bensin langka. Mau cari BBM juga susah,” katanya.

Menurut Aris, kondisi tersebut membuat para kurir harus terus memutar otak agar pekerjaan tetap berjalan. Target pengiriman tidak berubah, sementara biaya operasional dan situasi di lapangan semakin berat.

Sebagian kurir mulai mencari alternatif kendaraan, membatasi area pengantaran, hingga menyesuaikan rute agar bahan bakar lebih hemat. Namun solusi itu hanya menjadi jalan sementara di tengah ketidakpastian distribusi BBM. “Kalau kondisi seperti ini terus, tentu berat buat kurir di lapangan,” ucapnya.

Di tengah panas jalanan dan antrean panjang di SPBU, para kurir tetap bergerak mengantar paket dari satu rumah ke rumah lainnya. Ada yang bertahan dengan sisa bensin di tangki motor, ada pula yang mulai mengandalkan sepeda listrik demi menjaga pekerjaan tetap berjalan.

Bagi mereka, kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan sulit mengisi bahan bakar, melainkan soal bagaimana tetap mencari nafkah di tengah keadaan yang serba terbatas. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *