Feature

Merajut Filosofi Batang Garing yang Sakral

341
×

Merajut Filosofi Batang Garing yang Sakral

Sebarkan artikel ini
PERAJIN : Soleo Candra (45), perajin aksesoris etnik dengan nama jawet suring, Jumat (17/4/2026). FOTO MEDIA CENTER UNTUK RADAR KALTENG

Ketekunan Soleo Candra Menghidupkan Kerajinan Dayak di Palangka Raya

Di sebuah sudut tenang di Jalan Kakap I, Kelurahan Bukit Tunggal, Kota Palangka Raya, denting kecil alat kerja dan aroma serat kayu menjadi saksi lahirnya karya-karya penuh makna. Di sinilah, Soleo Candra (45) merawat warisan leluhur lewat tangan-tangan terampilnya. Dia menghidupkan kembali identitas budaya Dayak dalam bentuk yang terus relevan dengan zaman.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

USAHA kerajinan yang ia rintis selama tujuh tahun terakhir, jawet suring, bukan sekadar tempat produksi aksesoris etnik. Itu adalah ruang di mana filosofi, spiritualitas, dan estetika berpadu menjadi satu. Setiap goresan motif yang ditorehkan Soleo bukan hanya tentang keindahan visual, tapi juga narasi panjang tentang kehidupan masyarakat Dayak.

Di antara berbagai motif yang ia kerjakan, batang garing menjadi salah satu yang paling sakral. Simbol pohon kehidupan itu bukan sekadar ornamen, tetapi representasi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, alam, dan sesama.

Dengan ketelitian tinggi, Soleo menyusun tiap detailnya. Seolah memastikan bahwa makna yang terkandung tidak luntur oleh waktu. “Setiap orang yang memakai ini membawa cerita. Bukan hanya soal gaya, tapi tentang bagaimana kita memaknai hidup,” ungkapnya pelan sembari tangannya tetap bekerja, Jumat (17/4/2026).

Bahan baku yang digunakan pun bukan sembarangan. Kulit kayu nyamuk atau kapua dipilih karena kekuatannya yang khas lentur, namun tahan lama. Proses pemilihan bahan dilakukan secara cermat. Karena bagi Soleo, kualitas adalah bagian dari penghormatan terhadap budaya itu sendiri. Ia percaya, produk yang baik harus mampu bertahan, sebagaimana nilai-nilai yang diwakilinya.

Meski berakar kuat pada tradisi, jawet suring tidak menutup diri dari perubahan. Soleo memahami bahwa agar budaya tetap hidup, ia harus beradaptasi. Inovasi desain menjadi salah satu langkah penting yang ia tempuh. Terutama untuk menjangkau generasi muda.

Aksesoris seperti sumping ikat kepala perempuan Dayak kini hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan fleksibel. Tanpa menghilangkan identitas aslinya, desain baru ini memungkinkan produk digunakan dalam berbagai suasana. Dari acara formal hingga kegiatan santai. “Anak muda sekarang ingin sesuatu yang praktis. Jadi kami menyesuaikan, tapi tetap menjaga ruh Dayaknya,” ujarnya.

Dari ruang produksinya, lahir berbagai produk seperti baju sangkarut, lawung, sumping, hingga sangkirai, serta beragam aksesoris berbahan kulit kayu dan rotan. Semua dibuat secara manual, dengan ketelatenan yang tidak bisa digantikan mesin. Dalam sebulan, hanya sekitar tujuh set lengkap yang mampu dihasilkan.

Keterbatasan produksi itu justru menjadi kekuatan tersendiri. Setiap produk menjadi eksklusif. Memiliki nilai koleksi tinggi, dan terasa lebih personal bagi pemiliknya.

Tidak heran jika karya jawet suring kini telah digunakan oleh berbagai kalangan. Dari anak muda, tokoh adat, hingga pejabat.

Pemasaran pun berkembang mengikuti zaman. Selain melalui pameran, produk-produk ini juga dipasarkan lewat media sosial dan gerai Dekranasda. Dengan harga berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 2,7 juta, setiap karya menawarkan lebih dari sekadar barang. Tapi ia menawarkan identitas.

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus budaya lokal, apa yang dilakukan Soleo menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk maju. Justru dengan sentuhan inovasi, budaya bisa menemukan ruang baru untuk tumbuh.

Harapan Soleo sederhana, namun sarat makna agar budaya Dayak tidak hanya hadir dalam upacara adat, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Kalau orang memakai ini bukan hanya saat acara adat, berarti budaya kita benar-benar hidup,” katanya.

Di balik setiap helai serat kayu dan setiap motif yang terukir, jawet suring tidak hanya menjual kerajinan. Ia sedang merajut masa lalu, masa kini, dan masa depan membuktikan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan, melainkan peluang yang terus berkembang. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *