Feature

Menjaga Warisan Leluhur, Menyerahkan Diri kepada Tuhan

410
×

Menjaga Warisan Leluhur, Menyerahkan Diri kepada Tuhan

Sebarkan artikel ini
POTONG PANTAN : Bupati Kotim Halikinnor potong pantan yang merupakan tradisi adat khas Dayak sebagai bentuk ritual penyambutan tamu kehormatan, Minggu (26/4/2026). ‎FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Dari Ritual Malupit Hajat di Tumbang Boloi

‎‎Aroma kearifan lokal dan nuansa spiritual menyelimuti Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, saat masyarakat setempat menggelar ritual adat malupit hajat bagantung langit batuyang hawun di kediaman Yater U Buli, Minggu (26/4/2026).

TRADISI sakral masyarakat Dayak ini menjadi bukti kuat bahwa warisan leluhur tetap hidup dan dijaga di tengah perkembangan zaman.

‎Kedatangan Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor disambut hangat melalui ritual potong pantan, tradisi adat Dayak yang menjadi simbol penghormatan bagi tamu kehormatan. Prosesi tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang sarat makna spiritual dan nilai budaya.

‎Dalam sambutannya, Halikinnor menegaskan ritual bayar hajat bukan sekadar seremoni adat, melainkan cerminan hubungan harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

‎”Ritual ini adalah warisan budaya yang memiliki makna sangat mendalam. Di dalamnya terdapat nilai spiritual, rasa syukur, permohonan keselamatan, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Halikinnor.

‎Ia menjelaskan, malupit hajat bagantung langit batuyang hawun melambangkan penyerahan diri kepada Tuhan sekaligus pelepasan dari berbagai ketidakpastian hidup. Tradisi ini menjadi sarana masyarakat untuk menggantungkan harapan, memohon perlindungan, dan meraih keberkahan dalam menjalani kehidupan.

‎Menurut Halikinnor, di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian adat istiadat menjadi tanggung jawab bersama. Tradisi seperti ini tidak hanya memperkuat identitas masyarakat Dayak, tetapi juga menjadi kekayaan budaya yang patut dibanggakan.

‎”Budaya adalah jati diri daerah. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tradisi ini harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman,” tegasnya.

‎Bupati juga mengapresiasi masyarakat Desa Tumbang Boloi, tokoh adat, dan seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan ritual tersebut.

‎”Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengucapkan terima kasih. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan, kesehatan, dan keselamatan bagi kita semua,” ucapnya.

‎Halikinnor menilai, ritual adat Dayak memiliki potensi besar untuk diperkenalkan sebagai daya tarik wisata budaya Kalimantan Tengah. Selain bernilai edukatif, tradisi ini juga menyimpan pesan spiritual yang mendalam tentang keseimbangan hidup.

‎Dengan wilayah Kotim yang luas dan masyarakat yang beragam, budaya menjadi perekat yang memperkuat persatuan. Halikinnor menegaskan, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ritual adat seperti malupit hajat harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas daerah.

‎”Tradisi ini mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta. Inilah kekayaan yang tidak ternilai,” tandasnya. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *