Saat 117 Anak TK RA Al-Azhar Berkunjung ke BKSDA Kalteng
Suasana berbeda terlihat di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah. Puluhan anak taman kanak-kanak tampak antusias. Mata mereka berbinar saat melihat langsung berbagai satwa yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari buku atau televisi.
RICKY THEODORUS, Palangka Raya
SEBANYAK 117 anak TK RA Al-Azhar Palangka Raya datang berkunjung untuk belajar tentang satwa dan lingkungan. Agar kegiatan berjalan lancar, kunjungan dibagi dua gelombang. Meski begitu, semangat anak-anak tetap sama, penasaran, riang, dan penuh rasa ingin tahu.
Di lokasi, anak-anak diajak berkeliling melihat kandang transit milik BKSDA. Di sana, mereka dikenalkan dengan berbagai satwa. Seperti kangkareng putih, owa-owa, beruang madu, baning hingga kura-kura. Sesekali terdengar suara tawa dan teriakan kecil saat mereka melihat satwa bergerak.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Kalteng Agnes Indra Mahanani menjelaskan, kegiatan itu memang rutin dilakukan. Tujuannya sederhana, tapi penting. Yaitu mengenalkan sejak dini bahwa satwa liar perlu dijaga dan dilestarikan.
Menurut Agnes, satwa yang ada di kandang transit bukan untuk dipelihara selamanya. Satwa-satwa itu merupakan hasil penyelamatan atau penyerahan dari masyarakat, yang kemudian dirawat sebelum dilepas kembali ke alam liar.
“Proses ini penting agar satwa bisa kembali beradaptasi dengan habitat aslinya,” ucapnya sembari menjelaskan kepada anak-anak.
Tak hanya melihat langsung, anak-anak juga diajak belajar lewat cara yang menyenangkan. Mereka menonton film edukasi di studio yang menceritakan kehidupan satwa di hutan hingga proses pelepasliaran. Dengan cara ini, anak-anak bisa lebih mudah memahami tanpa merasa bosan.
Menariknya, banyak dari anak-anak tersebut baru pertama kali melihat satwa secara langsung. Hal ini tak lepas dari belum adanya kebun binatang di Kalteng. Sehingga momen seperti ini jadi pengalaman yang sangat berkesan bagi mereka.
Kepala Sekolah TK RA Al-Azhar Palangka Raya Nurwi mengatakan, kunjungan ini menjadi edukasi, bukan hanya sekadar jalan-jalan biasa. Ia berharap anak-anak bisa memahami bahwa satwa liar tidak boleh dipelihara sembarangan dan harus dijaga di habitatnya. “Dengan pengalaman ini, anak-anak diharapkan tumbuh dengan rasa peduli terhadap lingkungan sejak dini,” harapnya. (ter/ens)












