International

Serangan Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru, Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Gagal

176
×

Serangan Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru, Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Gagal

Sebarkan artikel ini
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel, di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, 5 April 2026. (ArabWeekly).

Upaya perdamaian di Timur Tengah yang sempat membuka harapan kembali berada di ujung tanduk.

Itu setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, hanya beberapa saat setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.

Serangan intens yang masih dilancarkan hingga Kamis (9/4) tersebut menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik meluas awal Maret.

Beirut Hancur, Warga Sipil Jadi Korban

Kondisi di Beirut digambarkan seperti zona perang total. Tim penyelamat bekerja sepanjang malam mencari korban di antara reruntuhan bangunan.

Seorang tenaga medis di Rumah Sakit American University Beirut menggambarkan situasi yang ia saksikan.

“Asap, api, dan teriakan ada di mana-mana. Rasanya seperti film, tapi ini nyata,” ujarnya mengutip NBC News.

Rumah sakit dipenuhi korban, termasuk bayi yang datang tanpa orang tua dalam kondisi trauma.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan ratusan korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka, dengan angka yang diperkirakan terus bertambah.

Gencatan Senjata Terancam Runtuh

Serangan ini langsung mengancam kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan Presiden AS, Donald Trump.

Kesepakatan tersebut awalnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi damai antara Washington dan Teheran.

Namun, perbedaan tafsir terkait cakupan gencatan senjata, terutama soal Lebanon—membuat implementasinya menjadi kacau.

Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara Israel dan AS menegaskan sebaliknya.

Gelombang kecaman internasional terhadap Israel jug terus meningkat.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut eskalasi terbaru ‘sangat merusak’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *