Feature

Prof Birute Galdikas Tutup Usia, Dunia Kehilangan Mother of Orang Utan

239
×

Prof Birute Galdikas Tutup Usia, Dunia Kehilangan Mother of Orang Utan

Sebarkan artikel ini
MENINGGAL : Birute Mary Galdikas saat masih hidup ketika mengabdikan diri untuk pelestarian orang utan di Taman Nasional Tanjung Putin Kabupaten Kotawaringin Barat. FOTO DOKUMEN

Kabar duka datang dari dunia konservasi. Tokoh yang sangat dekat dengan hutan Kalimantan, Profesor Dr Birute Marija Filomena Galdikas atau Birute Mary Galdikas, dikabarkan meninggal dunia di usia ke-79 tahun. Dunia pun kehilangan sosok yang disebut sebagai “Mother of Orang Utan”.

BIRUTE MARY GALDIKAS diketahui tutup usia usai berjuang melawan kanker dan fibrosis paru yang dirawat di sebuah Rumah Sakit Los Angeles, California, Amerika Serikat, Selasa (24/3/2026) pukul 04.30 dini hari waktu setempat.

Wanita kelahiran 10 Mei 1946 di Wiesbaden, Jerman ini, selama lebih dari lima dekade mendedikasikan hidupnya dalam penelitian dan pelestarian orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Sosoknya dikenal luas sebagai pendiri Orangutan Foundation International (OFI) sejak tahun 1986.

Organisasi itu dia dirikan dengan fokus mendukung konservasi, perlindungan, dan rehabilitasi orang utan, serta habitat alaminya. Terutama di wilayah Kalimantan. Kehadirannya berhasil membawa perhatian dunia terhadap keberadaan orang utan dan pentingnya menjaga ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia.

Jauh ke belakang pada tahun 1971, ia adalah salah satu dari tiga ilmuwan perempuan yang dipilih oleh Louis Leakey untuk mempelajari kera besar di habitat aslinya. Hasil penelitiannya sukses membuahkan rujukan penting dalam ilmu primatologi hingga menjadikannya disebut primatolog terkemuka.

Mendiang juga merupakan wanita hebat dibalik ditetapkannya Tanjung Puting sebagai kawasan konservasi taman nasional yang kini terangkat ke panggung dunia. Melalui OFI, beliau banyak menghabiskan waktunya tanpa lelah demi menyelamatkan ratusan hingga ribuan orang utan dan berjuang melestarikan habitatnya.

Bagi masyarakat Kalimantan, nama Birute Galdikas bukanlah ilmuwan biasa atau sekadar aktivis konservasi dan pakar orang utan. Kepedulian yang begitu besar kepada satwa endemik Kalimantan, bahkan membuatnya pantas dijuluki “Mother Of Orangutan” (ibu orang utan).

Di detik ini, kepergiannya masih menyisakan duka yang mendalam. Ucapan belasungkawa mengalir deras dari masyarakat penjuru dunia yang mencintainya. Jasa mulia Birute Galdikas pun diakui Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni yang turut mengenang kepergiannya.

“Bila hari ini Taman Nasional Tanjung Puting terlihat indah terjaga dengan orang utan membuat anda berdecak kagum, maka tanpa terlihat anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi, selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan awal tahun 70-an,” ujar Raja Juli dalam keterangan tertulisnya.

Disampaikan pula wasiat bahwa mendiang berkeinginan dimakamkan di tanah Dayak, berdampingan dengan pusara suaminya, Pak Bohap bin Jalan yang lebih dulu meninggal 2022.

“Mengingat wasiat yang disampaikan putranya, Fred Galdikas, saya kembali mengonfirmasi apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Dia lantas membenarkan dan segera mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA ke Jakarta,” ungkap Raja Juli.

Hari ini, dunia mungkin telah kehilangan sosok besar, namun warisan perjuangannya akan terus hidup. Gelar pendidikan, perjalanan riset demi riset dan advokasi, serta pengakuan prestasi mengakhiri sosok Birute Galdikas ke tempat perabadian, meninggalkan jejak yang tak akan pernah ikut terkubur. (fit/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *