Dari Manasik Haji TK dan PAUD se-Kota Palangka Raya
Suasana Stadion Sanaman Mantikei tampak berbeda dari biasanya, Sabtu pagi (14/2/2026). Sejak matahari belum terlalu tinggi, ribuan anak taman kanak-kanak sudah memadati lapangan dengan balutan busana serba putih. Suara panitia bersahutan melalui pengeras suara, memandu langkah kecil sekitar 3.000 anak TK yang mengikuti peragaan manasik haji se-Kota Palangka Raya.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
BARISAN mungil itu tampak rapi. Anak laki-laki mengenakan dua lembar kain ihram yang melilit tubuh kecil mereka. Sementara anak perempuan anggun dengan gamis dan hijab putih. Di antara mereka, ada yang masih menggenggam tangan orang tua, ada pula yang dengan percaya diri mengikuti arahan guru.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang digelar Badan Koordinasi Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (BKTKI) Kota Palangka Raya bekerja sama dengan seluruh PAUD di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Tahun ini, sebanyak 67 sekolah ikut ambil bagian, baik PAUD berbasis Islam maupun umum.
Acara secara resmi dibuka Asisten III Setda Kota Palangka Raya Jayani. Dalam sambutannya, ia menyampaikan, manasik haji bukan sekadar seremonial saja, tapi bagian dari proses pendidikan karakter sejak usia dini.
“Kegiatan hari ini merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan oleh BKTKI Kota Palangka Raya bekerja sama dengan seluruh PAUD di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Ini memang sudah menjadi program rutin dan juga merupakan keinginan para orang tua agar kegiatan seperti ini masuk dalam agenda pembelajaran PAUD,” ujarnya.
Rangkaian manasik dimulai dengan pemakaian kain ihram dan pembacaan niat haji sederhana. Anak-anak laki-laki dibimbing mengenakan dua lembar kain putih. Sementara anak perempuan mengenakan pakaian muslimah putih. Setelah itu, mereka bersama-sama melafalkan talbiyah, “Labbaika Allahumma labbaik…,” suara kecil yang terdengar kompak dan menggemaskan memenuhi stadion.
Perjalanan simulasi berlanjut ke wukuf di Arafah. Di area yang telah ditentukan, anak-anak diajak berdiam diri sejenak, berdoa, berdzikir, dan membaca tahmid. Meski sebagian masih bercanda kecil dengan teman di sampingnya, guru dengan sabar mengingatkan makna momen tersebut.
Kemudian, mereka memasuki simulasi mabit di Muzdalifah dan Mina, termasuk pengenalan memungut batu kerikil (biji jagung) untuk melempar jumrah. Dengan penuh semangat, anak-anak melempar biji jagung ke arah replika tugu jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah sebagai simbol perlawanan terhadap sifat buruk.
Puncaknya adalah tawaf mengelilingi miniatur Ka’bah tujuh putaran. Dengan langkah kecil yang terkadang tak beraturan, mereka mengitari replika bangunan suci itu. Sebagian melambaikan tangan ke arah “Hajar Aswad” sebelum memulai putaran.
Setelah itu, mereka melakukan sa’i, berjalan dan berlari-lari kecil antara replika bukit Safa dan Marwah tujuh kali. Raut wajah lelah mulai terlihat, namun semangat tak surut.
Rangkaian ditutup dengan tahalul, yakni memotong sedikit rambut secara simbolis, serta minum air zam-zam sebagai penutup simulasi.
Menurut Jayani, usia PAUD merupakan fase emas perkembangan anak. Pada masa ini, daya tangkap dan daya ingat mereka sangat kuat. “Karena usia PAUD adalah masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat menentukan. Di usia ini, perkembangan kognitif anak sangat pesat. Apa yang mereka lihat dan lakukan akan menjadi kesan kuat sampai dewasa. Dengan diperkenalkan sejak dini, diharapkan tumbuh cita-cita dan kesadaran untuk melaksanakan ibadah wajib bagi yang mampu, khususnya bagi umat muslim,” jelasnya.
Ia menambahkan, total peserta yang hadir bersama orang tua diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang. Jumlah tersebut telah dibatasi agar pelaksanaan tetap tertib dan kondusif.
Tidak semua wilayah diikutsertakan dalam kegiatan ini. Untuk wilayah yang cukup jauh seperti Tangkiling dan Kelurahan Marang, panitia menyarankan tidak ikut agar pelaksanaan lebih efektif dan tidak terlalu padat.
Dalam proses penyampaian materi, panitia menggunakan metode demonstrasi langsung. Anak-anak belajar dengan cara mempraktikkan setiap tahapan ibadah. Metode visual dan praktik dinilai lebih efektif untuk usia dini dibandingkan penjelasan teoritis semata.
“Sistemnya menggunakan metode demonstrasi di depan kelas. Anak-anak diperkenalkan melalui praktik langsung. Selain itu, bisa juga ditambahkan tayangan visual tentang pelaksanaan haji yang disesuaikan dengan usia PAUD agar lebih mudah dipahami,” tambahnya.
Di sisi lapangan, para orang tua tak henti mengabadikan momen menggunakan ponsel. Ada yang tersenyum haru melihat anaknya berani berjalan sendiri saat tawaf, ada pula yang tertawa kecil saat kain ihram si kecil hampir terlepas.
Bagi banyak orang tua, kegiatan ini bukan sekadar simulasi, tapi bagian dari pendidikan nilai dan pembentukan karakter. Mereka berharap pengalaman hari itu akan tertanam kuat dalam ingatan anak-anak, bahwa suatu hari nanti, ketika dewasa dan mampu, mereka benar-benar bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Di bawah langit cerah Kota Palangka Raya, suara talbiyah anak-anak menggema lembut. Mungkin belum sepenuhnya mereka pahami maknanya, tetapi dari langkah kecil yang mereka ayunkan hari itu, tertanam benih harapan dan cita-cita besar, yakni menjadi tamu Allah di masa depan. (ifa/ens)












