Feature

Bertahan Hidup dari Badut dan Jualan Kue

295
×

Bertahan Hidup dari Badut dan Jualan Kue

Sebarkan artikel ini
SENI TERBUKA : Kakek Ikur yang bekerja sebagai badut jalanan saat ditemui di Car Free Day, Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya, Minggu (8/2/2026). FOTO IFA/RADAR KALTENG

Kakek Ikur, Lansia 80 Tahun Mencari Nafkah di Jalanan

Di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat dan perawatan, Kakek Ikur justru masih harus bekerja. Tubuhnya ringkih dimakan usia. Persendiannya sering nyeri. Namun ia tetap berdiri di tengah keramaian Kota Palangka Raya. Di balik kostum teddy bear yang ia kenakan, tersimpan potret seorang lansia yang bertahan hidup di jalanan. Bukan untuk hiburan, melainkan karena tak ada pilihan lain.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

TAK ada yang benar-benar tahu usia pasti Kakek Ikur. Ia hanya memperkirakan dirinya telah berusia lebih dari 80 tahun. Tanpa pernah mengenyam bangku sekolah. Tak ada catatan kelahiran yang bisa dijadikan pegangan. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang usia yang terus menua dan tubuh yang semakin rapuh.

Sejak tahun 2022, Kakek Ikur mulai bekerja sebagai badut. Dalam seminggu, ia biasanya hanya mampu tampil satu kali. Itu pun saat car free day. Selebihnya, dia mencoba peruntungan dengan menjajakan kue di lampu-lampu merah. Kue itu bukan miliknya. Ia hanya membantu menjual. Berharap mendapat sedikit upah dari setiap potong kue yang laku.

Tak jarang dagangan tak habis. Namun Kakek Ikur tak punya pilihan selain mencoba kembali. Dari pagi hingga siang. Bahkan terkadang sore, ia berkeliling dengan langkah tertatih. Hasilnya tak seberapa. Penghasilan yang dibawa pulang biasanya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Jumlah yang mungkin kecil bagi sebagian orang. Tapi sangat berarti bagi Kakek Ikur. “Hampir tidak pernah pulang tanpa uang,” katanya pelan, Minggu (8/2/2026).

Bukan karena selalu cukup, melainkan karena ia tahu, pulang tanpa uang berarti tak ada yang bisa dimakan hari itu.

Menjadi badut bukanlah impian Kakek Ikur. Kostum teddy bear yang ia miliki dibeli dengan susah payah. Di dalamnya, keringat bercampur lelah dan rasa nyeri yang kerap menyerang persendiannya. Ia mengaku sering sakit asam urat. Namun rasa sakit itu kerap ia abaikan. Sebab berhenti bekerja bukanlah pilihan.

Alasan dia terus bekerja sederhana namun menyayat, masih ada perut yang harus diisi. Di rumah, menunggu seorang istri yang juga telah lanjut usia dan tak lagi mampu bekerja. Selain itu, ada cucu yang harus diberi makan. Dengan penghasilan yang tak menentu, kakek tetap memaksakan diri berjuang setiap hari yang tubuhnya masih mengizinkan.

Kini, Kakek Ikur tinggal di kawasan Pelabuhan Rambang. Ia tak memiliki rumah sendiri. Juga tak sanggup menyewa tempat tinggal. Sebuah pos kecil milik Dinas Perhubungan menjadi tempat berteduhnya. Ruang sempit itu menjadi saksi bagaimana kakek menjalani sisa hidupnya dalam keterbatasan.

Ia memiliki tiga orang anak. Namun hidup tak pernah benar-benar berpihak pada keluarganya. Ketiga anaknya juga hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Bahkan satu di antaranya mengikuti jejak sang ayah, bekerja sebagai badut. Anak lainnya tinggal tak jauh. Namun juga tak mampu banyak membantu.

Dalam sunyi, dia harus menerima kenyataan bahwa di usia senja, masih harus menanggung hidupnya sendiri dan orang-orang yang ia cintai.

Sepeda ontel tua setia menemani langkah Kakek Ikur. Dengan sepeda itu, ia berangkat dari Pelabuhan Rambang menuju car free day atau lampu merah Bundaran Kecil. Setiap kayuhan terasa berat, seiring usia dan rasa sakit yang tak pernah benar-benar pergi.

Waktu bekerja bagi Kakek Ikur sangat bergantung pada kondisi tubuhnya. Jika suatu hari ia merasa sedikit bugar, dia akan memaksakan diri keluar. Namun ketika nyeri datang lebih kuat, ia hanya bisa berdiam dan beristirahat, meski tahu kebutuhan hidup tetap menunggu.

Di tengah semua keterbatasan itu, Kakek Ikur tetap mencoba bersyukur. “Sedikit atau banyak, dicukup-cukupkan,” ucapnya lirih. Kalimat sederhana yang menyimpan kelelahan panjang seorang lanjut usia (lansia) yang telah menghabiskan hidupnya untuk bekerja.

Kostum badut yang ia kenakan mungkin membuat orang tertawa. Namun bagi Kakek Ikur, kostum itu adalah simbol perjuangan. Sebuah pelindung yang menutupi kesedihan, rasa sakit, dan kenyataan pahit bahwa di usia senja, ia masih harus berdiri di jalanan, bukan untuk hiburan, tetapi demi bertahan hidup. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *