Feature

Menghindari Satpol PP demi Makan Hari Ini dan Bertahan Hari Esok

79
×

Menghindari Satpol PP demi Makan Hari Ini dan Bertahan Hari Esok

Sebarkan artikel ini
LAYANI PEMBELI : Kakek Damiri (80), pedagang opak singkong gula aren keliling melayani pembeli ditemani ontel kesayangan, Minggu (25/1/2026). (FOTO IFA/RADAR KALTENG)

Kisah Kakek Damiri Mengayuh Sepeda di Usia 80 Tahun

Setiap pagi, ketika matahari belum sepenuhnya naik, seorang lelaki tua sudah mulai mengayuh sepeda ontel tuanya menyusuri jalanan Kota Palangka Raya. Tubuhnya ringkih, langkahnya pelan, namun tekadnya tak pernah surut. Dialah Kakek Damiri. Kake berusia 80 tahun itu adalah pedagang opak singkong gula aren keliling yang masih bertahan hidup dari jalan ke jalan, dari satu harapan ke harapan berikutnya.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

SEPEDA ontel itu bukan sekadar alat transportasi. Bagi Kakek Damiri, sepeda adalah penopang hidup sekaligus pelindung. Tanpa motor, tanpa gerobak, tanpa lapak tetap, ia memilih mengayuh sepeda tua demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan aman.

“Enggak punya motor,” katanya lirih. Tapi kalau pakai sepeda itu aman. Kalau ketemu Satpol PP, saya bisa jawab, saya enggak mangkal, cuma istirahat,” ungkapnya, Minggu (25/1/2026).

Di usia senja, Kakek Damiri masih harus memikirkan cara agar tidak ditertibkan Satpol PP, tidak diusir, dan tetap bisa membawa pulang rezeki untuk makan hari itu.

Kakek Damiri mulai berjualan opak sejak pandemi Covid-19 tahun 2020. Saat banyak orang kehilangan pekerjaan, ia yang sebelumnya ikut program transmigrasi pada 1984 di era Presiden Soeharto memilih jalan sunyi, berdagang kecil-kecilan di sektor informal.

Setiap hari, sejak pukul enam pagi, ia berangkat dari rumahnya di kawasan Jalan G Obos. Rutenya panjang dan melelahkan: G Obos, Jalan Yos Sudarso, Bandara Tjilik Riwut, hingga Panarung. Kadang ia baru pulang malam hari. Tergantung kuat tidaknya badan dan laku tidaknya dagangan.

Opak singkong gula aren yang ia jual dihargai Rp 15 ribu per bungkus, atau Rp 25 ribu untuk dua bungkus. Harga yang sederhana. Sama sederhananya dengan hidup yang ia jalani.

Namun menjadi pedagang keliling bukan perkara mudah. Ruang kota semakin sempit bagi mereka yang tak punya lapak resmi. Penertiban sering menjadi momok. Di situlah sepeda ontel menjadi “jalan tengah”.  “Kalau sepeda ditegur, kan bisa jawab. Ini lagi jalan, bukan mangkal,” jelasnya.

Sepeda memberi mobilitas, tapi juga alibi. Ia bisa berhenti sejenak untuk mengatur napas, tanpa dianggap berjualan di satu titik. Sebuah strategi sunyi yang lahir dari pengalaman panjang hidup di jalan.

Bagi Kakek Damiri, ketakutan terbesar bukanlah Satpol PP, melainkan tidak bisa makan. “Kalau takut nanti enggak makan. Mati kelaparan nanti,” katanya polos.

Penghasilan hariannya tidak pernah pasti. Kadang laris, kadang pulang dengan tangan kosong. Ia tidak pernah menghitung omzet. Baginya, rezeki bukan angka, melainkan keyakinan. “Namanya rezeki enggak bisa dipatok. Pernah pulang kosong. Enggak apa-apa. Sabar saja. Sebut nama Allah. Tawakal,” ucapnya.

Musim hujan menjadi tantangan tersendiri. Opak mudah hancur jika terkena air. Saat hujan turun, langkahnya terpaksa terhenti. Tidak berjualan berarti tidak ada penghasilan. Tapi memaksakan diri juga berisiko dagangan rusak. “Kalau hujan, opaknya hancur,” ucapnya singkat.

Pada hari-hari tertentu, seperti saat car free day, harapan itu kembali tumbuh. Keramaian menjadi peluang. Namun Kakek Damiri tak pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi. “Kalau rame, ya rame. Tapi rezeki kan masing-masing,” ujarnya.

Ia sadar, tidak semua orang yang lalu lalang akan membeli. Ia tidak memaksa. Tidak menawarkan dengan suara keras. Ia hanya berdiri di samping sepedanya, menunggu dengan sabar.

Di rumah, Kakek Damiri tinggal bersama anak dan cucunya. Istrinya telah lebih dulu meninggal dunia. Ia tak banyak meminta. Tak ada harapan besar tentang masa depan.

“Ada harapan ke depan? Semua tinggal menjalani,” katanya pelan. “Mau apa lagi? Tentang hidup, selama panjang umur. Kalau diambil oleh Allah, mudah-mudahan husnul khatimah,” tuturnya.

Di tengah gencarnya pembangunan kota, kisah Kakek Damiri menjadi potret kecil tentang bagaimana pedagang kecil beradaptasi dengan kebijakan, keterbatasan, dan usia. Sepeda ontel tua itu terus melaju, bukan karena kuat, tetapi karena tidak ada pilihan lain.

Selama kaki masih sanggup mengayuh dan tangan masih bisa menggenggam setang sepeda, Kakek Damiri akan terus berjualan. Bukan untuk kaya, bukan untuk dikenal, melainkan sekadar agar bisa makan hari ini, dan bertahan esok hari. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *