Feature

Rumah Bercerita Membuka Dunia untuk Teman Tuli

272
×

Rumah Bercerita Membuka Dunia untuk Teman Tuli

Sebarkan artikel ini
BAHASA ISYARAT: Faried Hazmi (baju hitam) memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat dalam Lapak Kosa Isyarat komunitas Huma Sarita saat car free day di Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya, Minggu (25/1/2026). FOTO IFA/RADAR KALTENG

Hadirnya Huma Sarita di Arena Car Free Day

Di tengah car free day (CFD) yang ramai di Jalan Yos Sudarso, Kota Palangka Raya, sekumpulan anak-anak hingga remaja banyak mendominasi. Hal itu menarik perhatian pengunjung. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa. Beberapa tangan bergerak cepat menulis dan menggambar. Sementara yang lain sibuk mencoba menyusun kata dengan bahasa isyarat.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

ITULAH Huma Sarita, yang dalam bahasa Dayak Ngaju berarti rumah bercerita. Sebuah komunitas yang hadir sebagai ruang inklusif bagi anak-anak, remaja dan teman-teman disabilitas, khususnya teman tuli.

“Kami ingin menciptakan ruang di mana semua orang, termasuk teman-teman tuli, bisa belajar, berkarya, dan diterima masyarakat,” kata founder sekaligus Ketua Huma Sarita Riethma Yustiningtyas saat ditemui di arena CFD, Minggu (25/1/2026).

Huma Sarita dibagi menjadi tiga klub utama yaitu dongeng klub, ilustrator klub dan hining klub.

Riethma Yustiningtyas menjelaskan, dongeng klub adalah tempat anak-anak dan remaja belajar menceritakan kembali cerita rakyat atau kisah modern dengan cara yang menarik dan ramah anak. Ilustrator klub memberikan wadah bagi teman-teman yang ingin menuangkan imajinasi mereka melalui gambar, mulai dari pemula hingga profesional, dengan proyek jangka panjang berupa buku cerita anak.

Yang paling unik adalah hining klub. “Hining itu artinya mendengar, tapi di sini kita mendengar dengan hati, bukan hanya telinga. Klub ini menjadi ruang bagi teman-teman tuli. Tetapi mereka juga belajar bersama teman dengar. Tujuannya agar komunikasi tidak lagi menjadi penghalang, dan teman-teman tuli bisa merasa diterima,” jelasnya.

Di hining klub, anak-anak belajar bahasa isyarat sambil bermain. Tidak hanya anak-anak tuli yang ikut, tetapi juga anak-anak yang mendengar agar mereka bisa berkomunikasi bersama. “Bahasa isyarat bukan hanya untuk teman tuli, tapi juga alat untuk mengajarkan inklusi sejak dini,” ungkap Riethma.

Hari itu, di tengah lokasi car free day, anak-anak tampak antusias mengikuti sesi membaca dan menggambar. Beberapa pedagang cilik dari sekitar lokasi ikut belajar bahasa isyarat, mencoba mengekspresikan diri dengan gerakan tangan yang lucu dan menggemaskan. Pengunjung yang hanya lewat pun ikut bergabung, menunjukkan bahwa Huma Sarita tidak membatasi siapa pun yang ingin belajar.

“Kami ingin masyarakat menyadari bahwa teman-teman tuli memiliki karya, punya skill, dan layak diterima tanpa diskriminasi. Di Huma Sarita, anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berkarya atau berinteraksi,” bebernya.

Proyek buku cerita anak yang sedang dikembangkan pun bersifat inklusif. Cerita-cerita rakyat modern akan disisipkan bahasa isyarat, sehingga anak-anak tuli dapat menikmati cerita dengan cara yang sama seperti teman dengarnya. Buku ini juga menjadi sarana pengenalan budaya dan literasi kreatif kepada masyarakat luas.

Sejak berdiri pada 28 November 2024, bertepatan dengan Hari Dongeng Nasional, Huma Sarita telah berkembang pesat.  “Antusiasme teman-teman sangat tinggi. Dongeng klub sempat harus kami hentikan sementara karena jumlah peserta terlalu banyak, sementara tutor terbatas. Kami berharap bisa bekerja sama dengan ilustrator lokal yang mau menjadi relawan,” kata Riethma.

Selain itu, Huma Sarita juga melibatkan komunitas lain. Seperti Pensil Kita, untuk memperluas jangkauan pendidikan inklusif. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya belajar bahasa isyarat, tetapi juga belajar menghargai perbedaan dan memandang teman tuli sebagai bagian dari lingkungan mereka.

Huma Sarita tidak hanya berfokus pada disabilitas. Anak-anak dari sekitar lokasi, pedagang cilik, hingga pengunjung umum menjadi bagian dari kegiatan ini. Semua orang belajar bersama, menciptakan suasana yang hangat dan ramah.

“Kami ingin semua orang merasa diterima. Sifat inklusi ini adalah inti dari Huma Sarita. Tidak ada yang diistimewakan. Semua punya hak belajar dan berkarya,” tuturnya.

Huma Sarita membuktikan bahwa literasi dan kreativitas dapat menjadi jembatan untuk inklusi sosial. Dengan dongeng, ilustrasi, dan bahasa isyarat, anak-anak belajar empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan rasa percaya diri.

“Kami ingin literasi inklusi ini menyebar luas, agar semua orang, termasuk teman-teman tuli, merasa diterima dan dihargai. Ini bukan hanya soal belajar bahasa isyarat, tapi soal membuka dunia bagi mereka,” pungkasnya.

Di sebuah car free day yang ramai, Huma Sarita bukan sekadar perkumpulan anak tanpa tenda, tempat mereka adalah rumah, rumah bercerita, rumah yang membuka dunia bagi teman tuli dan anak-anak untuk belajar, berkarya, dan merasa diterima. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *