PALANGKA RAYA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan tren penurunan signifikan pada tahun 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Riza Syahputra menyampaikan, pada tahun 2025 tercatat 1.170 kasus DBD dengan 8 kematian.
Jumlah tersebut menurun tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, tercatat 4.015 kasus dengan 22 kematian, sementara pada 2023 terdapat 4.661 kasus dan 25 kematian akibat DBD. “Penurunan ini merupakan hasil dari berbagai upaya pengendalian dan pencegahan yang terus dilakukan secara berkelanjutan,” kata Riza, Minggu (25/1/2026).
Riza menjelaskan, meningkatnya kasus DBD pada periode 2023 hingga 2024 dipengaruhi oleh faktor iklim, khususnya fenomena el nino. Suhu panas yang tinggi mempercepat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Sementara kondisi kekeringan mendorong masyarakat menampung air, yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Untuk mencegah DBD, Dinas Kesehatan Kalteng terus mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui program 3M plus. Yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air secara rutin, serta langkah pencegahan tambahan lainnya.
Setiap kasus DBD yang dilaporkan, lanjut Riza, akan dilakukan penyelidikan epidemiologi guna menemukan kemungkinan kasus tambahan di lingkungan sekitar serta melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Target penyelidikan epidemiologi yang kami lakukan mencapai 80 persen untuk memutus rantai penularan DBD,” tegasnya.
Dengan tren penurunan ini, masyarakat diimbau tetap waspada dan aktif berperan dalam upaya pencegahan DBD agar kasus terus dapat ditekan. (ifa/ens)
Kasus DBD Tahun 2025 se-Kalteng:
1. Kotawaringin Barat : 248
2. Kotawaringin Timur : 102
3. Kapuas : 29
4. Barito Selatan : 0
5. BBarito Utara : 119
6. Sukamara : 64
7. Lamandau : 56
8. Seruyan :67
9. Katingan : 56
10. Pulang Pisau :10
11. Gunung Mas :50
12. Barito Timur :30
13. Murung Raya : 145
14. Palangka Raya : 194












