Dari Kelakai Mengantar Marzhia Tesalonika ke Panggung Dunia
Bagi masyarakat Kalimantan, kelakai bukan sekadar tumbuhan liar yang tumbuh di lingkungan lembap. Tanaman paku dengan nama ilmiah stenochlaena palustris ini dikenal sebagai salah satu bahan pangan lokal yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
DARI tumbuhan yang dekat dengan keseharian masyarakat itulah, Marzhia Tesalonika menemukan gagasan penelitian yang membawanya meraih medali perak di ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2026.
Siswi kelas X DKV 2 SMKN 4 Palangka Raya itu mengangkat kelakai sebagai bahan utama penelitian yang memadukan kekayaan alam lokal dengan pendekatan ilmiah. Bersama kulit jeruk dan serai, kelakai diteliti dalam bentuk kombinasi infus yang dikaji potensinya untuk meningkatkan kadar hemoglobin guna membantu mencegah anemia.
Pilihan terhadap kelakai membuat penelitian Marzhia memiliki keterkaitan erat dengan kekayaan hayati Kalimantan Tengah. Tanaman ini tidak hanya menarik dari sisi pemanfaatannya sebagai bahan pangan, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk menggali potensi tumbuhan lokal melalui penelitian.
Kelakai dikenal masyarakat sebagai tumbuhan paku yang dapat dimanfaatkan bagian mudanya untuk dikonsumsi. Kehadirannya dalam kehidupan masyarakat Kalimantan memperlihatkan hubungan antara lingkungan alam dan pengetahuan lokal yang berkembang secara turun-temurun.
Pengetahuan tentang tumbuhan seperti kelakai menjadi bagian dari kekayaan lokal yang memiliki peluang untuk terus dipelajari. Melalui pendekatan ilmiah, pemanfaatan tanaman yang selama ini dikenal masyarakat dapat dikaji lebih jauh, mulai dari karakteristik bahan hingga kemungkinan manfaatnya berdasarkan hasil penelitian.
Di titik inilah penelitian Marzhia menjadi menarik. Ia tidak memilih objek penelitian yang harus jauh dari lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, ia mengangkat tanaman lokal yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Kalimantan, kemudian mengembangkannya menjadi gagasan penelitian untuk kompetisi ilmiah.
Penelitian berjudul Kelakai: The Efficacy of a Combination Infusion of Stenochlaena palustris, Orange Peel, and Lemongrass in Increasing Hemoglobin Levels to Prevent Anemia tersebut mengantarkannya meraih penghargaan kategori Life Sciences pada ISIF 2026.
Kompetisi yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia itu berlangsung secara luring di Depok, Jawa Barat, pada 6 sampai 17 Oktober 2026.
Di hadapan para juri, penelitian tersebut tidak cukup hanya mengandalkan keunikan bahan lokal. Marzhia juga harus menjelaskan metodologi, pengolahan data, dan cara mengomunikasikan karyanya.
Proses itu memberinya pengalaman bahwa gagasan yang berangkat dari kekayaan alam tetap harus dikembangkan dengan ketelitian dan dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Bisa ikut ISIF 2026 di UI itu pengalaman yang seru dan ngebuka pikiran banget. Di sini kami tidak hanya sekadar unjuk karya, tapi benar-benar diuji oleh juri, mulai dari cara olah data, metodologi, sampai cara kami mengomunikasikan produknya. Masukan kritis dari para juri bikin saya makin paham apa yang harus diperbaiki supaya karya ini bisa benar-benar bermanfaat,” ungkap Marzhia, Senin (19/10/2026).
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mengangkat tumbuhan lokal ke dalam penelitian bukan hanya persoalan menemukan bahan, melainkan juga bagaimana menyusun pertanyaan, menguji gagasan, dan menjelaskan hasilnya secara ilmiah.
Bagi Marzhia, penelitian itu sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan pengetahuan dan tradisi lokal masyarakat Dayak kepada khalayak yang lebih luas. Ia ingin menunjukkan bahwa kekayaan daerah memiliki ruang untuk dikembangkan oleh generasi muda melalui pendidikan dan penelitian.
“Dengan mengangkat kepercayaan dan tradisi lokal masyarakat Dayak ke kancah nasional dan internasional, saya mau membuktikan kalau hasil riset anak SMK juga bisa bikin perubahan nyata,” tambahnya.
Kelakai dalam penelitian tersebut menjadi penghubung antara pengetahuan lokal dan dunia sains. Tanaman yang dikenal sebagai bahan pangan masyarakat Kalimantan itu memperoleh sudut pandang baru ketika dijadikan objek kajian ilmiah. Dari sana, muncul kesempatan untuk menggali lebih jauh potensi tumbuhan lokal melalui penelitian yang terukur.
Meski penelitian Marzhia mengkaji potensi kombinasi kelakai, kulit jeruk, dan serai dalam meningkatkan kadar hemoglobin, manfaat kesehatan dari kombinasi tersebut tetap perlu dinilai berdasarkan bukti dan pengujian ilmiah yang memadai.
Raihan medali perak menjadi pengakuan atas karya yang dipresentasikan dalam kompetisi, bukan dengan sendirinya bukti bahwa ramuan tersebut telah terbukti mencegah atau mengobati anemia.
Namun, nilai penting penelitian ini tidak berhenti pada hasil kompetisi. Marzhia menunjukkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi untuk belajar dan menghasilkan gagasan baru. Kekayaan alam yang dekat dengan kehidupan masyarakat pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan potensi daerah melalui bahasa ilmu pengetahuan.
Dari kelakai, Marzhia membawa identitas lokal Kalimantan Tengah ke panggung internasional. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga sumber inspirasi yang dapat terus dikaji dan dikembangkan oleh generasi muda.
Di tangan generasi yang berani meneliti, kelakai tidak hanya dikenal sebagai tumbuhan pangan lokal. Ia juga menjadi awal dari sebuah cerita tentang bagaimana kekayaan alam Kalimantan dapat menginspirasi lahirnya gagasan ilmiah dan memperkenalkan potensi daerah kepada dunia. (ifa/ens)












