EntertainmentFeatureKalimantan Tengah

Terjun ke Lahan Gambut, Mendukung Relawan Padamkan Api

56
×

Terjun ke Lahan Gambut, Mendukung Relawan Padamkan Api

Sebarkan artikel ini
MELIHAT KARHUTLA : Aktris Zaskia Adya Mecca turun langsung ke lapangan membantu upaya pemadaman karhutla di Palangka Raya, Rabu (21/10/2026) lalu. FOTO : IG @zaskiadyamecca

Ketika Aktris Zaskia Adya Mecca Melihat Langsung Karhutla di Kalteng

Asap pekat menyelimuti langit Kota Palangka Raya. Jarak pandang terbatas, udara terasa menyesakkan, sementara kebakaran lahan gambut masih menjadi pekerjaan berat bagi para relawan yang berjuang memadamkan api. Di tengah situasi itu, aktris Zaskia Adya Mecca tak mampu menyembunyikan kesedihannya.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

MATANYA berkaca-kaca. Emosinya bercampur aduk ketika menyaksikan langsung kondisi yang selama ini harus dihadapi masyarakat Kalimantan. Bukan sekadar melihat kobaran api dari kejauhan, istri sutradara Hanung Bramantyo itu turun langsung ke lapangan membantu upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi wanita kelahiran 8 September 1987 itu. Ia menyaksikan sendiri betapa luasnya lahan terbakar. Sementara tenaga dan perlengkapan yang tersedia belum sebanding dengan beratnya pekerjaan di lapangan.

“Ini kalau kalian di sini emosional banget. Kebakarannya sebesar itu,” ungkap Zaskia melalui unggahan di akun Instagram @zaskiadyamecca, dikutip Rabu (21/10/2026). “Tenaganya nggak sebanyak itu, perlengkapannya,” ungkapnya.

Bagi Zaskia, kondisi tersebut bukan hanya tentang api yang harus dipadamkan. Ada perjuangan panjang para relawan dan masyarakat yang harus bertahan di tengah kepungan asap, hari demi hari.

Kunjungan aktris keuturan Sunda, Aceh dan Jerman itu ke Kalimantan berlangsung selama dua hari. Setelah menemui relawan mandiri di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, ia melanjutkan perjalanan ke Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Selasa (20/10/2026) lalu.

Pada hari kedua kunjungannya, Rabu (21/10/2026), Zaskia terjun langsung bersama para relawan membantu memadamkan api di lahan gambut yang terbakar.

Dia juga menyalurkan bantuan peralatan pendukung pemadaman serta perlengkapan keselamatan diri bagi para relawan.

Kesempatan untuk terlibat langsung membuatnya memahami bahwa memadamkan kebakaran di lahan gambut bukanlah pekerjaan mudah. Luasnya area terdampak, keterbatasan tenaga, serta kurangnya perlengkapan menjadi tantangan tersendiri. “Alhamdulillah dapet kesempatan hari ini memadamkan lahan gambut yang terbakar. Berat banget taunya,” tulis Zaskia.

Semakin dekat dengan situasi di lapangan, semakin terasa pula beban emosional yang harus dia hadapi. Zaskia mengaku kesulitan membendung air matanya ketika melihat kenyataan yang ada. Dia merasa sedih sekaligus marah menyaksikan kebakaran yang belum kunjung teratasi. “Bodo amat dibilang nangis muluuu. Situasinya seEMOSIONAL itu soalnya,” tulisnya. “Sedih, marah, ga abis pikir, speechless,” lanjutnya.

Tangis itu menjadi gambaran betapa beratnya pengalaman yang ia saksikan selama berada di lokasi bencana karhutla. Bukan hanya kobaran api yang membuat Zaskia terpukul. Kondisi udara di Palangka Raya juga menjadi perhatian serius baginya.

Dalam video yang dibagikan melalui Instagram, terlihat asap pekat menyelimuti kawasan tersebut. Aktivitas masyarakat masih berlangsung di tengah udara yang buruk, dengan jarak pandang di jalanan yang tampak menurun.

Zaskia menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Baginya, sulit membayangkan bagaimana masyarakat harus menjalani kehidupan sehari-hari di tengah asap yang begitu pekat. “Ini adalah tempat yang nggak layak banget buat orang hidup,” ucapnya sambil menahan tangis.

Warga setempat, menurut dia, menyebut kondisi udara saat itu sudah lebih baik dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, bagi Zaskia, asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut tetap terasa sangat pekat. “Dan ini udah udara yang lebih baik dibanding minggu lalu. Gimana lebih baik, kalau lebih baik buatku ini pekat banget asapnya,” akuinya.

Apa yang dilihatnya membuat Zaskia menyadari bahwa persoalan karhutla bukan hanya tentang api yang terlihat di permukaan. Asap yang menyebar juga menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi masyarakat.

Ada satu hal yang semakin membekas dalam benak Zaskia setelah menyaksikan langsung kondisi di Kalimantan. Masyarakat setempat, menurut keterangannya, telah menjalani hari-hari dengan kualitas udara yang memprihatinkan selama empat bulan, sejak Juli.

Rentang waktu tersebut membuatnya semakin memahami beratnya situasi yang dihadapi warga. Apa yang baginya terasa begitu berat selama dua hari berada di lokasi, telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat selama berbulan-bulan. “Jadi dengan turun langsung aku melihat betapa seriusnya situasi ini, beratnya situasi ini, dan mereka udah jalanin empat bulan,” lanjutnya.

Kesadaran itulah yang membuat emosinya semakin sulit terbendung. Di balik kabut asap yang terlihat di jalanan, ada masyarakat yang harus tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dan relawan yang terus berupaya memadamkan kebakaran dengan sumber daya terbatas.

Zaskia pun berharap kebakaran segera berakhir. Namun, dia mengaku tidak mengetahui kapan situasi tersebut akan benar-benar membaik. “Nggak tahu kapan selesai,” ucapnya sambil menangis.

Berada di tengah situasi yang berat turut memengaruhi kondisi fisik Zaskia. Dia mengaku penyakit maag yang dideritanya kambuh selama berada di Kalimantan dan tidak kunjung membaik. “Sampe aku sakit maag ga ilang-ilang selama di sini,” ungkapnya.

Meski demikian, pengalaman selama dua hari tersebut membuatnya melihat persoalan karhutla dari jarak yang lebih dekat. Dia tidak hanya menyaksikan dampak kebakaran, tetapi juga memahami beratnya perjuangan relawan dan masyarakat yang menghadapinya setiap hari.

Bagi Zaskia, turun langsung ke lapangan menjadi pengalaman yang membuka mata tentang seriusnya situasi yang sedang berlangsung. Tangisnya bukan semata-mata ungkapan kesedihan sesaat.

Ada rasa prihatin terhadap masyarakat yang harus bertahan di tengah udara yang buruk, sekaligus kegelisahan melihat kebakaran yang belum diketahui kapan akan berakhir.

Di Palangka Raya, asap masih menjadi bagian dari pemandangan yang disaksikannya. Sementara bagi warga setempat, perjuangan menghadapi dampak karhutla telah berlangsung jauh lebih lama daripada kunjungan singkat Zaskia. (ifa/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *