PALANGKA RAYA – Anggota DPRD Kalteng Okki Maulana meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP), Kalimantan Tengah (Kalteng) diperkuat.
Politikus muda dari Partai Golkar ini menilai Karhutla di TNTP di Kobar akan mengancam kelestarian kawasan konservasi, termasuk habitat orangutan Kalimantan dan keanekaragaman hayati.
Berdasarkan data kawasan ibukotanya para orang hutan yang terbakar mencapai mencapai 3.105,47 hektare berdasarkan data per 10 September 2026. Para petugas gabungan baik dari TNI, Polri, Pemkab Kobar dan relawan masih terus berjuang memadamkan api di kawasan hutan lindung tersebut.
Okki Maulana yang juga Ketua Ketua Forum Relawan Pemadam Kebakaran dan Pertolongan Kota Palangka Raya menambahkan penanganan kebakaran diikuti penguatan sistem pencegahan agar kerusakan ekosistem tidak semakin meluas.
Menurutnya karhutla di kawasan konservasi harus menjadi perhatian serius. Sebab dampak kebakaran tidak cukup diukur dari luas lahan yang terbakar, tetapi juga dari ancaman terhadap ekosistem dan keberlangsungan satwa liar.
“Kita harus melihat persoalan ini bukan hanya dari luas lahan yang terbakar, tetapi dampaknya terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya,” ujarnya, Jumat (16/10).
Anggota Dewan dari daerah pemilihan (Dapil) III meliputi Kotawaringun Barat, Sukamara dan Lamandau tersebut menegaskan, prioritas saat ini adalah memastikan proses pemadaman berjalan optimal. Dukungan personel, peralatan, dan logistik perlu dipastikan memadai agar petugas mampu menangani kebakaran secara efektif. Keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan juga harus menjadi perhatian utama selain satwa-satwa yang menghuni Taman Nasional Tanjung Putting tersebut.
“Prioritas saat ini adalah memastikan upaya pemadaman berjalan optimal, termasuk dukungan personel, peralatan, logistik, serta keselamatan seluruh petugas yang bekerja di lapangan dan satwa yang ada di dalamnya,” tegasnya.
Selain penanganan darurat, Okki mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pencegahan dan kesiapsiagaan karhutla. Menurutnya, ancaman kebakaran yang berulang setiap taahun menuntut langkah antisipasi yang lebih terencana, bukan sekadar bergerak setelah api meluas.
“Karhutla merupakan ancaman yang berulang, sehingga penanganannya tidak boleh terus-menerus bersifat reaktif,” katanya.
Okki juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara pemerintah, pengelola kawasan konservasi, petugas pemadam kebakaran, dan relawan. Sinergi tersebut diperlukan untuk meningkatkan mitigasi, memperkuat deteksi dini, serta memastikan kesiapan personel menghadapi potensi kebakaran.
Ia berharap, kejadian ini menjadi momentum untuk membenahi upaya penanggulangan karhutla di Kalteng. Keberhasilan, menurutnya, bukan hanya terletak pada kemampuan memadamkan api, melainkan juga mencegah kebakaran serupa kembali terjadi dan mengancam kawasan konservasi.(sep/*)












