Utama

Harga Sawit Turun, Solusinya Tekan Biaya Operasional Kebun

186
×

Harga Sawit Turun, Solusinya Tekan Biaya Operasional Kebun

Sebarkan artikel ini
Bupati Kotim, Halikinnor.

‎SAMPIT – Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai dirasakan berat oleh para petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi itu membuat sebagian petani harus mencari cara agar tetap mampu bertahan di tengah biaya produksi yang masih tinggi.

‎Menanggapi situasi tersebut, Bupati Kotim Halikinnor minta para petani untuk sementara waktu lebih bijak dalam mengatur pengeluaran kebun agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

‎Menurut dia, saat harga jual sawit mengalami penurunan, petani harus lebih cermat menghitung biaya operasional. Terutama untuk kebutuhan pupuk, perawatan kebun hingga penggunaan bahan bakar. ‎“Petani sekarang harus pandai menyesuaikan pengeluaran. Jangan sampai biaya perawatan kebun lebih besar daripada hasil panen yang diterima,” ujarnya, Kamis (28/5/2026) lalu.

‎Ia memahami kondisi tersebut cukup memberatkan masyarakat, terutama bagi warga yang selama ini menggantungkan penghasilan utama dari sektor perkebunan sawit. Pasalnya, di saat harga TBS turun, harga kebutuhan produksi perkebunan belum ikut mengalami penurunan.

‎Halikinnor juga menegaskan, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan langsung dalam menentukan ataupun mengendalikan harga sawit. Sebab kebijakan tata niaga hingga ekspor sawit merupakan kewenangan pemerintah pusat.

‎Meski demikian, pemerintah daerah tetap akan menyampaikan keresahan petani melalui jalur komunikasi dengan pelaku industri kelapa sawit, termasuk melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

“Daerah sifatnya hanya menyampaikan aspirasi petani dan kondisi di lapangan. Karena urusan harga dan tata niaga sawit memang menjadi kewenangan pemerintah pusat,” katanya.

‎Ia menilai turunnya harga sawit berdampak besar terhadap perputaran ekonomi daerah. Sebab banyak kecamatan di Kotim yang ekonominya bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit.

‎Walau situasi saat ini cukup sulit, Halikinnor tetap optimistis kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia menduga pemerintah pusat tengah melakukan penataan dalam sistem perdagangan sawit nasional sehingga memicu gejolak harga di pasar. “Saya yakin kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Mudah-mudahan setelah ada penataan, harga sawit bisa kembali stabil dan membaik,” harapnya.

‎‎Ia berharap harga TBS kelapa sawit kembali meningkat dalam waktu dekat agar daya beli masyarakat perkebunan kembali pulih dan roda ekonomi daerah bisa bergerak lebih kuat. “Kalau harga sawit kembali bagus, tentu dampaknya sangat besar bagi ekonomi masyarakat. Harapan kita petani bisa kembali sejahtera,” tandasnya. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *