Sementara itu, seorang pengemudi layanan transportasi online terpaksa menolak perjalanan jarak jauh dan beralih ke produk kebutuhan sehari-hari yang lebih murah.
Lembaga riset Oxford Economics juga memperingatkan bahwa jika harga minyak bertahan di kisaran USD 140 per barel selama dua bulan, sebagian ekonomi global bisa terdorong ke dalam resesi ringan.
Saat ini, harga minyak Brent Crude telah melonjak di atas USD 114 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di atas 105 dolar AS.
Bahkan International Energy Agency menyebut kondisi ini sebagai ‘guncangan pasokan minyak paling parah dalam sejarah’. Lembaga tersebut juga memperkirakan bahwa demand destruction akan meluas seiring kelangkaan pasokan dan tingginya harga energi.
Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa permintaan minyak global justru akan menurun tahun ini, berbanding terbalik dengan perkiraan sebelumnya yang memprediksi pertumbuhan.
Dengan tekanan yang terus meningkat dari berbagai sisi, dampak ekonomi dari konflik Iran kini semakin nyata bagi Amerika Serikat, dan tampaknya tidak lagi bisa disembunyikan.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Sumber : jawapos.com












