Ia menyebut kompensasi itu bisa berbentuk biaya transit dalam ‘rezim hukum baru’ yang akan diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas. Tabatabaei juga menilai ancaman Trump sebagai bentuk keputusasaan.
“AS telah beralih pada kata-kata kotor dan omong kosong karena frustrasi dan kemarahan,” ujarnya.
Sepanjang konflik berlangsung, serangan AS-Israel disebut telah menyasar berbagai fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga universitas. Para ahli memperingatkan bahwa tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Saat ditanya soal dampak serangan terhadap warga sipil, Trump justru menunjukkan sikap tak khawatir.
“Tidak, mereka ingin kita melakukannya,” kata Trump dalam wawancara dengan Wall Street Journal, merujuk pada rakyat Iran.
Ia juga menyebut warga Iran ‘hidup dalam neraka’, namun tidak memberikan kepastian kapan konflik akan berakhir.
Sementara itu, di tengah eskalasi, Trump juga mengungkap keberhasilan operasi militer AS dalam menyelamatkan seorang awak jet tempur F-15E yang jatuh di wilayah Iran.
“Kami telah menyelamatkan anggota kru F-15 yang terluka parah dari pegunungan Iran. Ini adalah aksi luar biasa penuh keberanian,” ujarnya.
Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4) waktu setempat, yang diperkirakan akan memperjelas langkah berikutnya dalam konflik yang terus memanas ini.
Editor: Estu Suryowati
Sumber : jawapos.com












