Pendidikan

Leader Not Follower, BBS Bukan Cuma Mengejar Nilai tapi Membentuk Karakter dan Integritas

213
×

Leader Not Follower, BBS Bukan Cuma Mengejar Nilai tapi Membentuk Karakter dan Integritas

Sebarkan artikel ini
BBS kembangkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics), dipadukan dengan program coding, robotika, debat, dan seni pertunjukan. (Istimewa)

Bina Bangsa School (BBS) sudah memasuki usia ke-25 tahun. Cikal bakal BBS tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah Indonesia. Peristiwa 1998 mendorong banyak keluarga menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri demi stabilitas dan kualitas pendidikan.

Ketika kondisi membaik dan keluarga ingin kembali, muncul pertanyaan sederhana jika pulang, sekolahnya di mana? Saat itu, institusi berstandar internasional di Indonesia masih sangat terbatas.

Menjawab kebutuhan tersebut, Surya Putra Subandi bersama rekan-rekannya, Mr. Lie dan Mr. Paulus, mendirikan Bina Bangsa School pada 2001. BBS menghadirkan Singapore Curriculum dan akreditasi Cambridge di Indonesia, sehingga keluarga yang kembali ke Tanah Air tidak perlu mengorbankan kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Pada saat yang sama, BBS membuka akses bagi siswa Indonesia untuk memperoleh pendidikan internasional tanpa harus meninggalkan negaranya. Bagi Surya, pendidikan bukan sekadar soal angka atau peringkat.

”Kalau kita hanya mengejar nilai, kita mungkin berhasil secara angka. Tapi kalau kita membentuk karakter dan kepemimpinan, kita membentuk masa depan,” kata Surya dalam keterangan resminya.

Prinsip leader not follower menjadi fondasi sekolah ini. Siswa didorong untuk berpikir global tanpa kehilangan nilai dan integritas.

Program seperti Model United Nations dan Harvard Model Congress menjadi ruang latihan kepemimpinan sejak dini. Untuk menjawab kebutuhan masa depan, BBS mengembangkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics), dipadukan dengan program coding, robotika, debat, dan seni pertunjukan.

Salah satu contoh integrasi tersebut adalah Wu Donglin, siswa BBS yang meraih Cambridge AS Level 2025: National First Place and Dual High Achievement Awards. Sekaligus aktif memainkan alat musik dizi (Chinese flute). Pendekatan ini menegaskan bahwa logika dan kreativitas tidak berdiri terpisah, melainkan saling menguatkan dalam membentuk kompetensi masa depan.

Direktur Akademik BBS Yuliana Puspita Sari menambahkan, visi BBS adalah membina murid untuk bisa menjadi pemimpin. ”Dari cara anak mengambil peran kepeminpinan, mencari peluang, mereka juga berkecimpung di budaya Indonesia, Tiongkok dan berakar di firman Tuhan,” kata Yuliana Puspita Sari.

Menurut dia, apa yang akan dihadapi siswa 10 tahun ke depan sudah mulai dipelajari.

”Kami bermajinasi untuk skill dan kemampuan apa yang akan dibutuhkan untuk dimasukkan kurikulum. Mereka perlu pemikiran berkontribusi ke negara hingga berkomunikasi yang baik. Sehingga setelah lulus siap ke mana saja,” ucap Yuliana Puspita Sari.

Dia menjelaskan, satu skill yang paling penting adalah keterampilan supaya bisa berbicara dalam hal apapun. Pengetahuan yang luas dan karakter yang baik.

”Karena orang sukses tanpa karakter merusak dunia,” tandas Yuliana Puspita Sari.

HUT ke-25 juga ditandai dengan konser nasional Legacy of Stars pada 7 Maret 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Konser ini melibatkan 478 siswa dari enam kampus di Indonesia.

Untuk pertama kalinya, perwakilan siswa dari Jakarta (Kebon Jeruk dan Pantai Indah Kapuk), Bandung, Semarang, Malang, dan Balikpapan, tampil dalam satu panggung kolaboratif, menghadirkan Western dan Chinese Orchestra, paduan suara, serta koreografi tari yang memukau.

Konser ini bukan sekadar perayaan seni, melainkan representasi konkret dari ekosistem pendidikan terintegrasi yang telah dibangun BBS selama seperempat abad, tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga belajar bekerja sama, berlatih disiplin, dan tampil percaya diri.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah

Sumber : jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *