Ekonomi & BisnisKalimantan TengahUtama

Ekonomi Kalteng Tumbuh 4,80 Persen Tahun 2025, Dorong Transformasi Struktural Masih Diperlukan

145
×

Ekonomi Kalteng Tumbuh 4,80 Persen Tahun 2025, Dorong Transformasi Struktural Masih Diperlukan

Sebarkan artikel ini
Administrator Perkasan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Hari Suciono. IST/RADAR KALTENG

PALANGKA RAYA – Administrator Perkasan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Hari Suciono menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebesar 4,80 persen pada tahun 2025 menjadi salah satu capaian penting, di tengah ketidakpastian global yang masih menghantui ekonomi nasional dan daerah. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 4,46 persen, atau mengalami perbaikan sebesar 0,34 persen poin secara tahunan.

“Dengan demikian, terdapat perbaikan aktivitas ekonomi pada beberapa sektor utama. Namun, untuk memahami apakah kenaikan ini merupakan sinyal transformasi struktural atau sekadar tren sementara, kita perlu melihat lebih dalam sumber pertumbuhan, langkah kebijakan, dan prospek ekonomi daerah ke depan. Pendorong utama ekonomi Kalteng masih berasal dari sektor-sektor tradisional,” ucapnya pada Minggu (15/2/2026).

Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang 22,93 persen terhadap PDRB, dengan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan. Sementara itu, industri pengolahan menyumbang 16,60 persen dengan pertumbuhan kuat sebesar 7,69 persen sepanjang 2025, terutama melalui pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya.

Hilirisasi sawit terus menjadi fokus pemerintah daerah mengingat pengolahan CPO ke produk pangan dan bioenergi belum optimal, dengan harapan dapat memperluas nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja baru. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kerentanan berupa ketergantungan berlebihan pada ekspor batu bara dan CPO yang menimbulkan risiko perlambatan, apalagi sektor pertambangan sempat terkena pembatasan ekspor.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kalteng telah merumuskan strategi peningkatan nilai tambah ekonomi melalui hilirisasi, pengembangan kawasan industri, dan pembukaan investasi baru. Pemetasan kawasan industri seperti Kumai Multi Energi dan Kawan Industri Sungai Tabuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi fondasi penting untuk memperluas basis industri pengolahan.

Langkah Pemda yang membuka peluang investasi hilirisasi sawit dan tambang juga diarahkan untuk memperkuat nilai tambah lokal, menciptakan pusat industri baru, serta melibatkan UMKM dalam rantai pasok yang lebih luas. “UMKM seyogianya tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses hilirisasi, tetapi harus memperoleh akses pembiayaan, pendampingan, serta teknologi agar dapat berpartisipasi dalam rantai nilai industri turunan sawit dan tambang,” jelasnya.

Bank Indonesia juga berperan krusial dengan menguatkan sistem keuangan daerah melalui digitalisasi. Sepanjang tahun 2025, transaksi QRIS tumbuh 152,5 persen, mencerminkan percepatan transformasi digital di tingkat usaha kecil dan menengah. BI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalteng pada 2026 dapat berada pada kisaran 5,25–6 persen, dengan catatan upaya hilirisasi, investasi, dan digitalisasi terus diperkuat.

“Hilirisasi yang kian agresif, pertumbuhan industri pengolahan yang solid, serta digitalisasi keuangan yang kian meluas, memberikan peluang kuat bagi Kalteng untuk menembus pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen secara berkelanjutan. Prospek ini akan terwujud apabila bauran kebijakan diarahkan pada konsistensi transformasi ekonomi, termasuk diversifikasi ekonomi di luar sawit dan tambang,” ujarnya.

Ia menekankan, bahwa integrasi UMKM dalam rantai nilai industri hilir perlu diperkuat secara nyata dengan pendampingan berkelanjutan dan akses pembiayaan yang memadai. Selain itu, penguatan ekonomi digital melalui perluasan penggunaan QRIS dan sistem pembayaran modern juga harus berjalan seiring untuk memudahkan transaksi dan meningkatkan efisiensi usaha.

“Ekonomi yang tumbuh lebih tinggi menjadi sinyal positif bagi Kalteng. Namun, angka ini harus dibaca sebagai awal dari proses transformasi, bukan sekadar keberhasilan sesaat. Tantangannya kini adalah mengelola momentum tersebut dengan kebijakan yang terarah, inklusif, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Dengan sinergi yang kuat antara Pemda, BI, dan segenap pemangku kepentingan, Kalteng berpotensi memasuki fase baru pertumbuhan yang lebih inklusif, bernilai tambah, dan tahan terhadap guncangan global. (rdi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *