PALANGKA RAYA – Peta perhotelan di Kalimantan Tengah mulai bergeser. Hotel berbintang yang selama ini identik dengan kenyamanan justru kehilangan tamu, sementara hotel nonbintang pelan-pelan mencuri perhatian dan makin ramai pengunjung.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat, sepanjang Desember 2025 jumlah tamu hotel berbintang hanya mencapai 58.537 orang. Angka ini turun 12,43 persen dibandingkan November 2025.
Penurunan paling terasa datang dari tamu domestik yang anjlok hingga 12,53 persen, meski tamu asing justru naik tipis 2,94 persen.
“Mayoritas tamu hotel bintang masih didominasi wisatawan domestik, namun secara bulanan terjadi penurunan cukup tajam,” ungkap Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M. Taufiqurrahman, saat rilis di BPS Kalteng, Senin (2/2/2026).
Di saat hotel bintang meredup, hotel nonbintang atau biasa kita sebut wisma, losemen atau sejenisnya, justru tancap gas.
Jumlah tamu yang menginap di hotel nonbintang melonjak menjadi 107.884 orang atau naik 5,39 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan ini didorong oleh tamu domestik yang masih menjadi tulang punggung, sekaligus lonjakan signifikan tamu asing yang tumbuh lebih dari 21 persen.
Fenomena ini mengindikasikan perubahan selera tamu. Harga terjangkau, lokasi strategis, dan kebutuhan menginap singkat diduga menjadi alasan hotel nonbintang kian diminati, terutama menjelang akhir tahun.
Meski secara bulanan hotel bintang tertekan, jika ditarik secara tahunan kondisinya masih relatif positif. Dibandingkan Desember 2024, jumlah tamu hotel bintang tumbuh 27,71 persen, sementara hotel nonbintang bahkan melesat hingga 43,76 persen.
Soal lama menginap, tamu domestik di hotel bintang rata-rata hanya bertahan sekitar satu hingga satu setengah malam. Hotel bintang tiga menjadi pilihan dengan lama menginap terpanjang, sedangkan hotel bintang empat dan lima justru mencatat durasi paling singkat. Sebaliknya, tamu asing cenderung lebih betah di hotel bintang atas dengan rata-rata lebih dari dua malam.
Di hotel nonbintang, pola menginap relatif singkat dan merata, menunjukkan karakter tamu yang datang untuk urusan cepat dan praktis.
Tren ini menjadi sinyal bagi pelaku industri perhotelan di Kalteng: persaingan bukan lagi soal bintang, melainkan soal relevansi dengan kebutuhan tamu. Jika tak beradaptasi, hotel berbintang bisa makin tertinggal oleh penginapan sederhana yang lebih fleksibel dan ramah di kantong.












