214 Warga Kotim Terserang ISPA Selama Agustus
SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang ditangani RSUD dr Murjani Sampit melonjak sepanjang Agustus 2026.
Tercatat 214 pasien ISPA mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut selama Agustus. Dari jumlah itu, 124 pasien menjalani rawat jalan, 90 orang harus rapat inap.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit dr Candra membenarkan adanya peningkatan tersebut. “Pada Agustus 2026 pasien ISPA yang kami tangani 214 kasus. Rinciannya 124 pasien rawat jalan dan 90 pasien rawat inap,” katanya, Sabtu (5/9/2026).
Lonjakan tersebut terlihat jika dibandingkan dua bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, jumlah pasien ISPA yang tercatat 62 orang. Angka itu meningkat menjadi 154 kasus pada Juli dan kembali melonjak menjadi 214 pada Agustus. Artinya, dalam kurun tiga bulan, jumlah pasien ISPA meningkat lebih dari tiga kali lipat. Dari 62 kasus pada Juni menjadi 214 pada Agustus.
Kenaikan terbesar dari Juni ke Juli, yakni bertambah 92 kasus. Sementara Agustus, jumlah pasien kembali meningkat 60 kasus dibandingkan bulan sebelumnya. “Data bulan Juli, kasus ISPA untuk rawat jalan dan inap 154 kasus. Dibandingkan Juni yang hanya 62 kasus, terjadi kenaikan 100 persen,” jelasnya.
Peningkatan kasus tersebut terjadi ketika sejumlah wilayah Kotim dilanda kabut asap akibat karhutla. Kualitas udara memburuk menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena paparan asap mengganggu sistem pernapasan. Terutama masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan diminta lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, serta menjaga kondisi tubuh.
Kenaikan kasus ISPA ini menjadi sinyal bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai membebani sektor pelayanan kesehatan di Kotim. (pri/ens)












