Kotawaringin Timur

Sumber Air Minim, Kerahkan Ekskavator Gali Embung dan Parit

50
×

Sumber Air Minim, Kerahkan Ekskavator Gali Embung dan Parit

Sebarkan artikel ini
GALI PARIT : Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengerahkan ekskavator untuk menggali embung dan parit di sejumlah titik rawan kebakaran hutan dan lahan, beberapa waktu lalu. FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

SAMPIT – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi tantangan serius. Bukan hanya soal luasnya lahan yang terbakar, tapi juga minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim mengerahkan ekskavator menggali embung dan parit di sejumlah titik rawan. Langkah ini sebagai upaya memperbanyak sumber air yang dapat digunakan saat terjadi kebakaran.

Pengerahan alat berat tersebut dilakukan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim.

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, penggalian embung dan parit merupakan dukungan konkret pemerintah daerah menangani karhutla. “Sebagai langkah nyata di lapangan, Dinas SDABMBKPRKP menurunkan alat berat untuk penggalian embung dan parit di sejumlah titik,” katanya, Senin (31/8/2026).

Selama ini, personel dan peralatan telah dikerahkan maksimal Pemkab Kotim bersama TNI, Polri, relawan dan unsur terkait lainnya. Namun upaya tersebut kerap terkendala ketika petugas membutuhkan air untuk memadamkan api maupun membasahi lahan.

Sejumlah sumber air di sekitar lokasi karhutla tidak lagi mencukupi akibat kemarau. Akibatnya petugas harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan pasokan air, yang pada akhirnya dapat memperlambat proses penanganan. “Penggalian embung dan parit ini untuk menambah dan menjaga ketersediaan sumber air, sehingga dimanfaatkan petugas dalam pemadaman maupun pembasahan lahan di sekitar wilayah rawan dan terdampak kebakaran,” jelasnya.

Beberapa lokasi embung dan parit itu berada di Jalan Tjilik Riwut, Jalan Jaksa Agung, Jalur Lingkar Utara (Jalan Soekarno), Jalur Lingkar Selatan (Jalan Mohammad Hatta), serta Jalan Bawi Jahawen.

Embung dan parit yang dibuat di kawasan tersebut diharapkan menjadi cadangan air yang mudah dijangkau ketika terjadi kebakaran. Keberadaan sumber air yang dekat dengan titik rawan dinilai penting untuk mempercepat respons. Petugas tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber air yang lokasinya jauh.

Selain mendukung pemadaman, ketersediaan air juga diharapkan membantu pembasahan lahan agar api tidak kembali muncul dan merambat ke kawasan lain.

Pemkab Kotim menilai penanganan karhutla membutuhkan langkah yang tidak hanya bersifat reaktif. Penyediaan sumber air menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, terutama selama kondisi kemarau masih berlangsung. (pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *