DPRD Gunung MasGunung Mas

Kabut Asap Makin Tebal, DPRD Gunung Mas Imbau Jam Belajar TK-SMP Dikurangi

71
×

Kabut Asap Makin Tebal, DPRD Gunung Mas Imbau Jam Belajar TK-SMP Dikurangi

Sebarkan artikel ini
WAWANCARA : Anggota DPRD Kabupaten Gunung Mas, Lelie, saat dibincangi wartawan di ruang kerjanya, Rabu (26/8/2026). FOTO : SEPANYA

KUALA KURUN – Saat ini, di wilayah Kabupaten Gunung Mas, kabut asap mulai menebal, yang dibutuhkan anak-anak bukan sekadar pakai masker, tetapi juga sedikit napas panjang dari aktivitas belajar mengajar bagi guru di sekolah.

Anggota DPRD Kabupaten Gunung Mas, Lelie, mengimbau pihak sekolah untuk mempertimbangkan pengurangan jam belajar atau tatap muka bagi peserta didik tingkat TK, SD, dan SMP. Imbauan itu disampaikan menyusul kondisi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Gunung Mas dan memicu kabut asap cukup tebal.

Menurutnya, kondisi udara akibat asap karhutla tidak bisa dianggap sepele, terlebih anak-anak termasuk kelompok yang cukup rentan terhadap gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.
“Mengingat wilayah kita Gunung Mas saat ini sering terjadi kebakaran hutan dan lahan serta kemarau panjang, sehingga menimbulkan kabut asap yang cukup mengganggu dan menjadi polusi udara. Anak-anak sekolah sangat rentan terserang penyakit ISPA,” disampaikan Lelie saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (26/8/2026).

Politisi PDI Perjuangan dari dapil- II Gunung Mas ini, menilai kegiatan belajar mengajar memang penting. Namun, dalam kondisi udara yang dipenuhi asap, keselamatan dan kesehatan peserta didik juga harus menjadi prioritas.

Jangan sampai anak-anak tetap dipaksa belajar seperti biasa ketika udara di luar kelas justru tidak bersahabat. Sebab, mengejar pelajaran bisa dilakukan kembali, sementara ketika kesehatan sudah terganggu, urusannya tentu tidak sesederhana membuka buku dan kembali belajar.

Karena itu, ia meminta pihak sekolah bersama pemerintah daerah untuk melihat kondisi di lapangan secara berkala dan menyesuaikan kegiatan belajar dengan kualitas udara.

“Kalau kondisi asap semakin tebal, jangan dipaksakan. Jam belajar bisa dikurangi atau tatap muka disesuaikan dengan kondisi, terutama bagi anak-anak TK, SD dan SMP,” ujarnya.

Menurut Lelie, kebijakan pengurangan jam belajar bukan berarti mengurangi perhatian terhadap pendidikan. Justru langkah tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap peserta didik ketika kondisi lingkungan sedang tidak sehat.

Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah memperhatikan kondisi anak-anak yang mulai mengalami batuk, sesak, mata perih atau keluhan kesehatan lainnya akibat paparan asap.

“Pendidikan penting, tetapi kesehatan anak juga jauh lebih penting. Jangan sampai mereka datang ke sekolah untuk belajar, tetapi justru pulang membawa penyakit karena kondisi udara,” tegasnya.

Lelie berharap kondisi karhutla dan kabut asap di Gunung Mas segera terkendali sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat kembali berjalan normal. (nya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *