International

Harga Minyak Terancam Tembus 200 Dolar AS di Tengah Perang Iran, Gedung Putih Siapkan Skenario Terburuk Global

247
×

Harga Minyak Terancam Tembus 200 Dolar AS di Tengah Perang Iran, Gedung Putih Siapkan Skenario Terburuk Global

Sebarkan artikel ini
Scott Bessent menegaskan keyakinannya terhadap prospek jangka panjang ekonomi AS dan pasar energi global. (The Business Times)

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai mengkaji dampak ekstrem apabila harga minyak mentah melonjak hingga 200 dolar AS per barel atau sekitar Rp 3,4 juta (dengan kurs Rp 16.980 per dolar AS). Hal ini mencerminkan kewaspadaan tinggi terhadap eskalasi konflik Iran yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.

Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak telah melonjak signifikan sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari. West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 30 persen ke level 91 dolar AS per barel (sekitar Rp 1,82 juta), sementara Brent melonjak hampir 40 persen hingga mencapai kisaran 102 dolar AS per barel (sekitar Rp 2,04 juta).

Melansir Bloomberg, Jumat (27/3/2026), pejabat senior di pemerintahan Trump tengah melakukan pemodelan untuk mengukur dampak lonjakan harga minyak terhadap pertumbuhan ekonomi. Kajian ini disebut sebagai bagian dari evaluasi rutin dalam situasi krisis, bukan prediksi resmi.

Langkah tersebut bertujuan memastikan kesiapan pemerintah menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk konflik berkepanjangan di Timur Tengah. “Pemodelan ini bertujuan memastikan pemerintah siap menghadapi segala kemungkinan,” ujar sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, seperti dikutip Bloomberg.

Bantahan Gedung Putih dan Kekhawatiran Internal

Namun, Gedung Putih membantah laporan bahwa mereka secara spesifik mengkaji skenario harga 200 dolar AS per barel. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan, “Meskipun pemerintah selalu mengevaluasi berbagai skenario harga dan dampak ekonomi, para pejabat tidak sedang mengkaji kemungkinan minyak mencapai USD 200 per barel.”

Ia juga menambahkan bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent tidak “khawatir terhadap gangguan jangka pendek dari Operasi Epic Fury” dan tetap percaya pada arah jangka panjang ekonomi AS.

Meski bantahan disampaikan, laporan sebelumnya menunjukkan adanya kekhawatiran internal. Bahkan sebelum konflik pecah, Bessent telah menyoroti potensi dampak kenaikan harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat senior juga disebut telah memperingatkan Gedung Putih mengenai volatilitas harga minyak dan bensin.

Sinyal Pasar dan Sorotan dari Media Sosial

Di tengah ketidakpastian ini, dinamika pasar turut menjadi sorotan. Menurut cuitan akun X marionawfal, pengusaha sekaligus figur media sosial yang kerap mengulas dinamika pasar global di platform tersebut, terdapat indikasi pergerakan awal dari pelaku pasar sebelum isu ini mencuat ke publik. 

Ia menyatakan, “Saya yakin sudah ada pihak yang memasang posisi besar di pasar minyak dan kontrak berjangka indeks saham sebelum informasi ini muncul ke publik.”

Ia menambahkan bahwa pemerintahan Trump “secara diam-diam sedang memodelkan dampak jika harga minyak melonjak hingga USD 200 per barel akibat perang Iran,” seraya mengingatkan bahwa level tersebut “hanya pernah terjadi sekali dalam sejarah modern, tepat sebelum krisis keuangan global 2008.”

Risiko Global: Inflasi, Suku Bunga, dan Ketidakpastian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *