Lonjakan harga minyak berpotensi memicu dampak sistemik. Secara historis, level harga 200 dolar AS per barel—dalam penyesuaian inflasi—tercatat menjelang krisis keuangan global 2008. Bahkan pada level 170 dolar AS, Bloomberg Economics memperkirakan inflasi di Amerika Serikat dan Eropa akan meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi tertekan.
Selain itu, gangguan distribusi energi turut memperburuk situasi. Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia, mengalami gangguan signifikan, sehingga meningkatkan tekanan pada pasar global.
Presiden Trump sendiri menyatakan tidak khawatir dan menilai kenaikan harga energi dapat menguntungkan AS, serta memprediksi harga akan turun setelah konflik berakhir.
Di sisi lain, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde memperingatkan meningkatnya risiko inflasi. Bahkan, sejumlah bank sentral di Eropa dan Asia mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan harga energi.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga menegaskan tingginya ketidakpastian dengan menyatakan, “Masih terlalu dini untuk menilai dampak lonjakan harga minyak terhadap ekonomi AS.”
Ketahanan Energi Asia Jadi Penentu Dampak
Dalam konteks yang lebih luas, ketahanan energi di Asia menjadi faktor krusial yang menentukan seberapa dalam dampak krisis ini. Negara dengan cadangan besar memiliki ruang bertahan lebih lama terhadap guncangan pasokan.
Jepang memimpin dengan cadangan hingga 254 hari dari kombinasi cadangan pemerintah dan swasta, diikuti Korea Selatan dengan 208 hari melalui cadangan strategis nasional. Taiwan juga relatif aman dengan lebih dari 100 hari cadangan, sementara Thailand berada di kisaran 95–98 hari.
Tiongkok memiliki cadangan antara 80 hingga 200 hari, bergantung pada kombinasi stok pemerintah dan komersial. Sementara itu, India berada di sekitar 74 hari, meskipun cadangan strategis pemerintahnya relatif terbatas.
Namun, kerentanan mulai terlihat di negara dengan cadangan lebih tipis. Filipina memiliki sekitar 60 hari tanpa cadangan strategis pemerintah, sementara Singapura berada di kisaran 55–60 hari. Sri Lanka hanya memiliki sekitar 35 hari akibat keterbatasan penyimpanan, dan Malaysia sekitar 30 hari meskipun berstatus produsen minyak.
Australia memiliki 29–36 hari cadangan setelah melepas stok darurat, Vietnam 23–29 hari, sementara Indonesia hanya 20–25 hari tanpa cadangan strategis nasional. Lalu, Pakistan menjadi yang paling rentan dengan hanya 11 hari cadangan minyak mentah.
Ancaman Sistemik Ekonomi Global












