Dengan demikian, lonjakan harga minyak bukan sekadar persoalan komoditas, melainkan ancaman sistemik terhadap stabilitas ekonomi global. Interaksi antara konflik geopolitik, gangguan pasokan energi, dan respons kebijakan moneter berpotensi menciptakan tekanan berlapis di berbagai kawasan.
Dalam situasi ini, skenario minyak seharga 200 dolar AS per barel bukan hanya kemungkinan ekstrem, tetapi indikator risiko yang kini mulai diperhitungkan secara serius oleh para pengambil kebijakan global.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Sumber : jawapos.com












